Rabu, 30 Januari 2019


ASUHAN KEBIDANAN  PADA IBU BERSALIN PADA NY”D” G1P0A0 JANIN TUNGGAL  HIDUP  PRESENTASI KEPALA DENGAN TINDAKAN EPISIOTOMI DI RUANG BERSALIN RSUD PALEMBANG BARI
 TAHUN 2013



BH
 







 DI SUSUN OLEH :


NAMA  : NEVI SULISTIKA
NPM       : 11154011211



PROGRAM STUDI  KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANBINAHUSADA
PALEMBANG
2013



KATA PENGANTAR

Assalamu’allaikum Wr. Wb
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunianya lah kami dapat menyelesaikan makalah seminar praktik klinik kebidanan dengan judul “ ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PADA  NY “ D”    G1P0A0   JANIN TUNGGAL HIDUP  PRESKEP DENGAN TINDAKAN EPISIOTOMI DI RUANG DERSALIN  RSUD PALEMBANG BARI TAHUN 2013. Dalam pembuatan makalah kasus ini kami mengucapkan terimakasih kepada yth:
1.      Dr. Hj Makiani, SH, MM, MARS, selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
2.      dr. M. Ayus Antoni, SpPD, Finasim, selaku wakil Direktur Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
3.      dr. Chairil Zaman M.Sc selaku ketua  STIK Bina Husada Palembang
4.      Hj. Nitra Dewi  selaku Ketua Komite Medik Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
5.      Dr. Dina Andriana, selaku Kepala Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
6.      Hj. Yulia Surie, S.Pd, M.Kes, selaku Kepala Bidang Penunjang Medis dan Pendidikan Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
7.      Masriana, S.Kp, selaku Kepala Bidang Perawat Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
8.      H. Firman, AM.Kep, S.Pd, M.Kes selaku Ketua Komite Keperawatan Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
9.      Hj. Lilis Suryani, S.Pd, selaku Kepala Seksi Diklat dan Litbang Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
10.  Fadlun, SST, selaku Koordinator Pembimbing Klinik Rumah Sakit Umum Daerah Bari Palembang BARI
11.  Rini Rosalia,SST, selaku Kepala Ruang Kebidanan  Rumah Sakit Daerah Palembang BARI
12.  Firli Yuliyani,SST, selaku Koordinator Pembimbing Klinik Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
13.  Wargustini SST, selaku Dosen Pembimbing Akademi Kebidanan STIK Bina Husada 
14.  Seluruh Staf dan Tenaga Medis Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
15.  Seluruh Dosen Pengajar dan Staf Akademi Kebidanan STIK Bina Husada Palembang
16.  Semua pihak yang membantu dalam penyelesaian Makalah Seminar Praktik Klinin ini dapat penulis selesaikan
17.  Teman – teman Se – almamater Program Studi Kebidanan STIK Bina Husada Palembang yang telah ikut membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari masalah sangat banyak kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun guna kemajuan yang lebih baik pada makalah – makalah berikut. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


                                                            Palembang,  Desember 2013


                                                                        Penulis







DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN............................................................................    ii
KATA PENGANTAR.........................................................................................    iii
DAFTAR ISI....................................................................................................... ..   vii

BAB I  PENDAHULUAN....
1.1.            Latar Belakang…………………………………………………...……….    1
1.2.            Tujuan……………………………………………………………...……..    3
1.2.1.       Tujuan Umum……………………………………………...……..    3
1.2.2.       Tujuan Khusus…………………………………………………..       3
1.3.Waktu…………………………………………………………………… .         4
1.4.Tempat ……………………………………………………………...…....          4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.      Profil RSUD Palembang BARI…………………………………………...   5
2.1.1 Selayang Pandang…………………………………………….….…    5
2.1.2 Visi, Misi dan Moto RSUD Palembang BARI………………….… .   5
2.1.3 Sejarah…………………………………………………...………....     6
2.1.4 Lokasi RSUD Palembang BARI …………………………………...   7
2.1.5 Dasar Hukum……………………………………………………….    8
2.1.6 Fasilitas dan Pelayanan……………………………………………..    8
2.2.      Konsep dasar Persalinan …………………………………………….......     11
2.2.1. Pengertian persalinan…………………………………………… ..     11
2.2.2.Sebab mulai persalinan…………………………………………….      11
2.2.3. Jenis-Jenis Persalinan……………………………………………..      12
2.2.4. Tahap persalian…………………………………………………. ..      12

2.3.     Episiotomi……………………………………………………………... ...     13
2.3.1. pengertian episiotomi…………………………………………..…      14
2.3.2. Tujuan episitomi………….…………………………………. …...      14
2.3.3. Indikasi Melakukan Episiotomi…………………………….….....      14
2.3.4. Jenis episiotomy………………………………………… .…..….       15
2.3.5. Prosedur Pelaksanan Episiotomi………………………  …….....        .17
2.3.6. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan
Episiotomi………………………………………...… ...………..         .20
2.3.7. Maafaat Episiotomi…………………………………...………....        20
2.3.8. Kerugian Episiotomi……………………………………………..       21
2.3.9.Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tindak Episiotomi…....       22
BAB III TINJAUAN  KASUS
3.1.Data Subjektif…………………………………………………………........       24
3.2. Data Objektif……………………………………………………… ……...       29
3.3.Asessment…………………………………………………… ………........        33
3.4.Planning……………………………………………………………………        34
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Pembahasan…………………………………………………… ........…….       44
4.1.1. Langkah pertama pengumpulan data dasar……..……………….        44
4.1.2.Langkah ke Dua Interprestasi Data Dasar………..………………       45
4.1.3.Langkah ke Tiga Mengedentifikaskan Diagnosa
 atau masalah Potensial…………………………………………..        46
4.1.4.Langkah ke Empat mengidentifikasikan dan menetapkan
Kebutuhan yang Memerlukan Penangan segera…… ………..….        46
4.1.5.Langkah Ke Lima Merencanakan asuhan Yang
          operensif dan Menyeluruh………………………..……………...        46
4.1.6. Langkah ke Enam Pelaksanaan…………………  ……………...        47
4.1.7.Langkah ke Tujuh:  Evaluasi…………………….……………....         47
4.2. Hasil Pengkajian………………………………………………………......        48
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ………………………………………………………………..        51
5.2 saran……………………………………………………………………….         52       

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN








BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang

Episiotomi adalah   insersi dari perinium untuk memudahkan persalinan dan untuk mencegah ruptur perineum totalis. Pada masa lalu dianjurkan untuk melakukan episiotomi secara rutin yang tujuannya untuk mencegah robekan berlebihan pada perinium, membuat tepi luka rata agar mudah dialakukan penjahitan mencegah penyulit atau tahanan pada kepala dan infeksi. Para penolong harus cermat membaca kata “rutin” pada  epiotominya karena hal itulah yang dianjurkan, bukan episiotominya. (Ari S. 2010)
Menurut World  Health Organization ( WHO)  Pendarahan menepati persentasi tertinggi penyebab kematian ibu 28 %, anemia dan kekurangan energy  kronis (KEK)  pada ibu hamil menjadi  penyebab utama terjadinya perdarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu. Di perkirakan di seluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal dunia tiap tahun saat hamil atau bersalin. Angka kematian ibu (AKI)  di Negara-negara sedang berkembang  berkisar 350/10.000 kemataian. Kematian maternal memang menjadi perhatian dunia internasional (Hardi, 2010)
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Berdasarkan data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 28 per 100.000. Jumlah kematian ibu tahun2012 di Kota Palembang, berdasarkan laporan sebanyak 13 orang dari 29.451 kelahiran hidup (Profil Pelayanan Kesehatan Dasar, 2012).
1
 
Menurut  data supervisi kesehatan  provinsi sumatera selatan angka kelahiran tiap tahun terus meningkat. Baik kelahiran yang di tolong oleh tenaga medis maupun tenaga non medis. Dari 1.000 persalinan setidaknya 0,5 % peralinan di tolong oleh tenaga non medis. (Dinkes,2011)
Beradasarkan data Dinas kesehatan kota Palembang pada tahun 2009 angak ibu bersalin sebanyak 32.385 persalian (2,21%) sedangkan pada tahun 2010 angka ibu bersalin sebanyak 33.238 persalinan (2,07%)  dan pada tahun  2011 angka ibu bersalin sebanyak 30.296 persalianan (2,07). (Profil Dinas Kesehatan Palembang, 2012)
Berdasarkan penelitan Indiana  Pernatall Educators Conference yang dilakuakukan  terhadap episiotomi didapatkan bukti bahwa praktik episiotomi  secara rutin tanpa indikasi  yang jelas yang menimbulkan  resiko yang justru sebaliknya dari persepsi awal tentang episiotomi. (Rubin, 2010)
         Beradasarkan data Dinas kesehatan kota Palembang pada tahun 2009 angak ibu bersalin sebanyak 32.385 persalian (2,21%) sedangkan pada tahun 2010 angka ibu bersalin sebanyak 33.238 persalinan (2,07%)  dan pada tahun  2011 angka ibu bersalin sebanyak 30.296 persalianan (2,07). (Profil Dinas Kesehatan Palembang, 2012)
Berdasarkan data yang didapat dari rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI sebanyak 1288 persalinan pada tahun 2011.  Pada tahun 2012 terdapat 1308 persalinan.
Karena latar  belakang tersebut maka penulis tertarik untuk membahas kasus Ny ”D” yang dalam makalah ini berjudul ”Asuhan Kebidanan pada  ibu bersalin pada Ny ”D pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013







1.2.Tujuan  Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
      Untuk mendapakan pengetahuan dan pengalaman nyata serta mampu  menerapan asuhan kebidanan dalam rangaka menanggulangi kasus-kasus kebidanan, terutama pada asuhan kebidana  pada kasus tindakan episiotomi
1.2.1. Tujuan Khusus
1.2.1.1. Mahasiswa mampu  melakukan pengkajian data dalam memberikan Asuhan pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013
1.2.1.2. Mahasiswa mampu menginterprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah pada ibu pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013
1.2.1.3. Mahasiswa mampu mengidintifikasi diagnosa atau masalah potensial  pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013
1.2.1.4.  Mahasiswa mampu melakukan antisipasi tindakan segera pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013
1.2.1.5. Mahasiswa mampu menyusun rencanan asuhan secara  menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang di buat pada langkah sebelumnya pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013
1.2.1.6. Mahasiswa mampu melaksanankan secara langsung  asuhan yang episien dan pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013
1.2.1.7.  Mahasiswa mampu mengefaluasikeefektifan  asuhan yang di pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi di ruang bersalin RSUD palembang Bari tahun 2013
            1.3. Waktu
Pengambilan  dan pengkajian data pada ibu bersalin Ny”D” G1P0A0 janin tunggal hidup persentasi kepala dengan tindakan episiotomi dilakukan pada tanggal 05 Desember 2013 pukul 14.30 WIB.
1.4. Tempat
Asuhan kebidanan Dilakukan diruang Bersalin RSUD Palembang Bari
           









 

BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Profil  RSUD Palembang Bari
2.1.1. Selayang Pandang
            Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI merupakan unsur penunjang pemerintah daerah di bidang pelayanan kesehatan yang merupakan satu – satunya rumah sakit milik pemerintah kota Palembang. Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI terletak di Jalan Panca Usaha No.1 Kelurahan 5 Ulu Darat Kecamatan Seberang Ulu, dan berdiri diatas tanah seluas 4,4 Ha.
            Bangunan berada lebih  kurang 800 meter dari jalan raya jurusan Kertapati, sejak tahun 2011 dibuat jalan alternative dari jalan Jakabaring menuju RSUD Palembang BARI. Saat ini sedang diupayakan pembangunan jalan langsung menuju RSUD Palembang BARI dari jalan poros Jakabaring.
2.1.2   VISI ,MISI Motto RSUD Palembang BARI
            VISI
“Menjadi Rumah Sakit Unggul, Amanah, dan Terpercaya di Indonesia”

Misi :
1)         Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang prima dengan berorientasi pada keselamatan  dan ketepatan sesuai standar mutu berdasarkan pada etika dan profesionalisme yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat
2)         Meningkatkan mutu manajemen sumber daya kesehatan.
3)         Menjadikan RSUD Palembang BARI sebagai rumah sakit pendidikan dan pelatihan di Indonesia
Motto :
5
 
 “Kesembuhan & Kepuasan Pelanggan Adalah Kebahagiaan Kami
2.1.3. Sejarah
1)      Sejarah Berdirinya
̶            Pada tahun 1985 sampai dengan 1994 RSUD Palembang BARI    merupakan gedung poliklinik / Puskesmas Panca Usaha.
̶            Pada tanggal 19 juni 1995 diresmikan menjadi RSUD Palembang BARI, maka dengan SK Depkes nomor 1326/Menkes/SK/XI/1997, tanggal 19 November 1997 ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah kelas C.
̶             Kepmenkes RI Nomor.HK.00.06.22.4646 tentang pemberian status akreditasi penuh tingkat dasar kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI, Tanggal 7 November 2003.
̶            Kepmenkes RI Nomor: YM.01.10/III/334/08 tentang pemberian status akreditasi penuh tingkat lanjut kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI, tanggal 05 Februari 2008.
̶            Kepmenkes Nomor 241/MENKES/SK/IV/2009 tentang peningkatan kelas Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI menjadi kelas B, tanggal 02 April 2009.
̶            Ditetapkan sebagai BLUD-SKPD RSUD Palembang BARI berdasarkan keputusan Walikota Palembang No.915.B tahun 2008 tentang penetapan RSUD Palembang BARI sebagai SKPD Palembang yang menetapkan pola pengelolaan keuangan BLUD ( PPK-BLUD ) secara penuh.
̶            KARS-SERT/363/1/2012 tentang Status Akreditasi Lulus Tingkat Lengkap kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI, tanggal 25 januari 2012.
2)      Sejarah Pemegang Jabatan Direktur
̶            Tahun 1986 s.d 1995 :dr.Jane Lidya Titahelu sebagai Kepala Poliklinik Puskesmas Panca Usaha
̶            Tanggal  1 Juli 1995 s.d Juni 2000 : dr. Eddy Zarkaty Monasir,SPOG sebagai direktur RSUD Palembang BARI

̶            Bulan Juli 2000 s.d Nopember 2000 : Pelaksana Tugas dr.H.Dachlan Abbas.SpB
̶            Bulan Desember 2000 s.d februari 2001 : Pelaksana Tugas dr.M.Faisal Saleh,SpPD
̶             Tanggal 14 November 2000 s.d Februari 2012 : dr.Hj.Indah Puspita.H.A, MARS sebagai direktur RSUD Palembang BARI.
̶            Tangggal 17  Februari 2012 s.d sekarang : dr. Hj. Makiani, MM sebagai direktur RSUD Palembang BARI.
2.1.4. Lokasi RSUD Palembang BARI
RSUD Palembang BARI terletak di Kecamatan Seberang Ulu 1 Jalan Panca Usaha No.1 Kelurahan 5 Ulu Darat, bangunan berada ± 800 meter yang saat ini dirasakan sangat sempit, tepi jalan masi rawa-rawa, dengan rumah-rumah penduduk masih kurang teratur. Sejak januari 2001 di bangun jalan alternatif dari jakabaring menuju RSUD Palembang BARI yang bisa langsung menuju ke kantor KORPRI kota Palembang dan PDAM. Saat ini sedang diupayakan pembangunan jalan yang langsung menuju RSUD Palembang BARI dari jalan poros jakabaring Areal rumah sakit luasnya ± 45.605 m hampir 100% merupakan rawa-rawa yang kedalaman airnya menjaga kebersihan dari luar tanah ± 4.5 ditimbun ± 40% dan diatasnya sudah beberapa gedung untuk meningkatkan pelayanan kesehatan
2.1.5. Dasar Hukum
RSUD Palembang BARI dalam membentuk pelayanan terhadap masyarakat dilindungi oleh UU Hukum sebagai dasar ntuk melaksanakan tugas meliputi:
a)         UU No.23 Menkes Tahun 1992 Tentang pokok-pokok kesehatan
b)         Keputusan Mentri Kesehatan RI No. 326/Menkes/SK11/X1/1997 Tanggal 10 November 1997 tentang penetapan kelas RSUD Palembang BARI menjadi kelas B


c)          Keputusan Wali Kota Palembang No.11 Tahun 2000 Tentang pelaksanaan PERDA tahun 2000 tentang organisasi kerja RSUD Palembang BARI
d)         Keputusan Wali kota No.50 Tahun 2001 tantang pelayanan RSUD Palembang BARI degan SK Wali Kota No.23 / keputusan kesehatan 2001 tentang pembagian hasil pungutan biaya pelayanan kesehatan
e)         UU No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah
f)           Program Pembangunan Daerah (PROPERDA) Kota Palembang Tahun 2001-2005
g)          Peraturan Daerah Kota Palembang No.3 Tahun 2004 tentang Prganisasi dan tatanan kerja Rumah Sakit Umum Palembnag BARI
h)         Keputusan Wali Kota Palembang No. 50 Tahun 2004 tentang pelaksanaan peraturan Kota Palembang Tahun 2004
2.1.6. Fasilitas dan Pelayanan               
Dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, RSUD Palembang BARI mempunyai pelayanan sebagai berikut:
a)      Fasilitas
1)      Instalasi Rawat Darurat (IRD) 24 jam
2)      Farmasi (Apotek) 24 jam
3)      Rawat jalan/poloklinik spesialis
4)      Rawat Inap
5)      Bedah Sentral
6)      Rehabilitas Medik
7)      Radiologi 24 jam
8)      Laboratorium klinik 24 jam
9)      Patologi anatomi
10)  Bank Barah
11)  Hemodialisa
12)  Medical Check Up
13)  ECG/EEG
14)  USG 4 Deminsi
15)  Endoscopy
16)  kamar Jenazah
17)  Ct scan 64 Slices
18)  Central Sterilized Suplay Departement(CSSD)
b)       Pelayanan Rawat Jalan
Perawatan rawat jalan (spesialis)
1)        Poliklinik spesialis Dalam
2)        Poliklinik spesialis Penyakit Bedah
3)        Poliklinik spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan
4)        Poliklinik spesialis Terpadu
5)        Poliklinik spesialis Anak
6)        Poliklinik spesialis Mata
7)        Poliklinik spesialis THT
8)        Poliklinik spesialis Kulit dan Kelamin
9)        Poliklnik spesialis Jiwa
10)    Poliklinik spesialis Medik
11)    Poliklinik spesialis Jantung
12)    Poliklinik Gigi
13)    Poliklinik Psikologi
14)    Poliklinik Tumbuh Kembang






c)      Pelayanan Rawat Inap
Rawat Inap VIP dan VVIP
1)        Perawatan Kelas I,II,III
2)        Perawatan Penyakit Dalam Laki-Laki dan Perempuan
3)        Perawatan Anak
4)        Perawatan Bedah
5)        Perawatan ICU
6)        Perawatan Kebidanan
7)        Perawatan Neonatus/NICU/PICU
d)     PelayananS Transportasi
1)         Mobil Ambulance 188 BG 9011 MZ
2)         Ambulance BG 9047 AZ
3)         Mobil Operasional Mitsubishi BG 90234
4)         Mobil Ambulance B 8047 ZX
5)         Mobil Ambulance Trauma Central BG 9191





2.2. Konsep Dasar persalinan
2.2.1. pengertian persalinan
Persalina adalah  proses pengeluaran hasil konsepsi ( janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandunagan  melalu jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini dimulai  dengan  adanya kontraksi persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara progresif dan di akhri dengan kelahiran plasenta. (Sulistiawati,2010)
Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya kontraksi uterus yang menyebabkan  terjadinya  dilatasi progeresif dari seviks kelahiran bayi dan kelahiran plasenta dan proses tersebut merupakan proses yang alamiah (Rohani,Reni.dkk.2011)
2.2.2. Sebab Mulainya Persalinan
Menurut Rustam Mochtar,1998  apa yang menyebabkan terjadinya persalinan Belum diketahui benar, yang ada hanyalah teori –teori yang kompleks antara lain  di kemukakan faktor-faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi.
1)         Teori penurunan Hormon
        Satu sampai dua minggu sebelum partus mulia  terjadi penurunan kadar hormone estrogen  dan Progestron. Progesteron bekerja sebagai penengan otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembulu darah sehinga timbul his bila kadar progesteron turun.
2)         Teori plasenta menjadi tua akan menyababkan kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembulu darah  hal ini akan menimbulkan kontraksi  rahim.
3)         Teori destensi ramim
·            Otot rahim mempunyai kemampuan merenggang dalam batas tertentu.
·            Setelah melewati batas tersebut, akhirnya terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulia.
4)         Teori iritasi mekanik: dibelakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser) bila ganglion ini di geser dan  ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.
5)          Induksi Partus (inducation of labour) partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan :
·         Ganging Laminaria : beberapa laminaria dimasukan dalam kanalis sevikalis dengan tujuan merangsang pleksus Frankenhauser
·         Amnotomi: Pemecahan Ketuban
·         Oksitosi Drips:pemberi oksitosin menurut tetesan per infus
2.2.3. Jenis-Jenis Persalinan
Jenis persalinan menurut sarwono (2001)adalah sebagai berikut :
1)        Persalinan spontan  bila persalinan berlangsung dengan kekuatan   ibu sendiri.
2)        Pesalinan Buatan, bila proses persalinan  bila persalinan membutuhkan bantuan tenaga  dari luar.
3)        persalinan anjuran  bila kekuatan yang di perlukan untuk persalinan ditimulkan dari luar dengan  jalan rangsangan
2.2.4.Tahap Pesalinan
1).  Kala I (kala Pembukaan)
Kala 1 persalin dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan servis  hingga mencapai pembukaan lengkap
Kala 1 persalinanan dibagi menjadi dua fase, yaitu:
a). Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak awal kontraksi yang menyababkan  penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai pembukaan 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam
b). Fase aktif (pembukaan serviks 4-1cm), berlangsung selam 6 jam. Pada fase aktif persalinan, frekuensi  dan lamanya kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat jika terjadi 3 kali atau lebih dalam 10 menit  dan berlangsung 40 detik atau lebih
2).  Kala II (kala Pengeluaran Janin)
Kala II persalinan di mulai ketika pembukaan serviks sudah dianggap lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara berlangsung selama 2 jam dan pada multipara 1 jam.
3). Kala III (pengeluaran Plasenta)
                        Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung  5- 30 menit setelah bayi lahir.
4). Kala IV (kala pengawasan)
Kala IV dimulai setalah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah proses tersebut.
Observasi yang harus dilakukan pada kala IV
a)   Tingakat kesadaran
b)   Pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi dan pernafasan)
c)   Kontraksi uterus
d)  Kerjadinya perdarahan. Pendarahan dianggap masih normal jika  jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc.

2.3. Episiotomi
 Episiotomi adalah   insersi dari perinium untuk memudahkan persalinan dan untuk mencegah ruptur perineum totalis. Pada masa lalu dianjurkan untuk melakukan episiotomi secara rutin yang tujuannya untuk mencegah robekan berlebihan pada perinium, membuat tepi luka rata agar mudah dialakukan penjahitan mencegah penyulit atau tahanan pada kepala dan infeksi. Para penolong harus cermat membaca kata “rutin” pada  epiotominya karena hal itulah yang dianjurkan, bukan episiotominya. (Ari S. 2010)
Kematian maternal dapat terjadi  pada saat penolongan persalinan, penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, gastosis. Pada kasus distosia bahu, pada ibu  komplikasi yang akan terjadi adalah  perdarahan yang di akibatkan oleh laserasi jalan lahir, episiotomi maupun antonia uteri. Angka kematian maternal dan nonatal juga  disebabkan dua hal penting yang memerlukan perhatian khusus yaitu, partus terlambat dan partus lama dan terlambatnya merujuk. (Suswono,2009)
2.3.1. Pengertian Episiotomi
Episiotomi adalah  insersi dari perinium untuk memudahkan persalinan dan untuk mencegah ruptur perineum totalis.(Ari Sulistyawati,2010)
Episiotomi adalah insisi pada perinium untuk memperbesar mulut vagina (Rohani,Reni.dkk.2011)
2.3.2.  Tujuan episiotomi
Tujuan episiotomi mencega ruptur perinium dan memper mudah pemulihan luka (Arif M,2000)
Menurut Ari Sulistiyawati (2010) tujuan dilakuaknya tindakan episiotomi yaitu:
1). Mempercapat  persalinan denagan memperlebar jalan lahir lunak.
2). Menghindari robekan perinium untuk memudahkan penjahitan.
3). Menhindari robekan perinium spontan.
4). Memperlebar jalan lahir pada tindakan persalinan pervaginam.
2.3.3. Indikasi Melakukan Episiotomi
Menurut Manuaba (2007) khusus pada primigravida, laserasi jalan lahir terutama perineum sulit dihindari sehingga untuk keamanan dan memudahkan menjahit laserasi kembali dilakukan episiotomi. Disamping itu, episiotomi dipertimbangkan pada multigravida dengan introitus vagina sempit atau pada wanita dengan perineum yang kaku. Selain itu menurut Sumarah (2008) indikasi episiotomi dilakukan pada:
1)    Gawat janin, untuk menolong keselamatan janin maka persalinan harus segera diakhiri
2)    Persalinan pervaginam dengan penyulit, misalnya presentasi bokong, distosia bahu, akan dilakukan ekstraksi forcep, ekstraksi vakum.
3)    Jaringan parut pada perineum ataupun  pada vagina
4)    Perineum kaku dan pendek
5)    Adanya ruptur yang membakat pada perineum
6)    Prematur untuk mengurangi tekanan pada kepala janin
2.3.4. Jenis Eisiotomi
                 Jenis episiotomi yang dilakukan berdasarkan letak dan arah insisi
 1). Episiotomi mediolateralis
     Episiotomi mediolateralis merupakan insisi pada perinium ke arah bawah, tetapi menjauhi rektum selain itu juga dapat ke arah kiri atau kanan  tergantung tangan dominan yang di gunakan oleh penolong. Episiotomi mediolateral  paling sering digunakan karena  relatif lebih aman untuk mencagah  perluasan ruptur kearah derajat III dan IV.
2). Episiotomi median
     Episiotomi median merupan insisi pada garis tengan perineum  ke arah rektum tetapi tidak sampai mengenai sepinter ani.
                 Keuntungan dan kerugian episiotomi median
a)        Perdarahan  timbul dari luka episiotomi lebih sedikit karena merupahkan daerah yang relatif sedikit mengandung pembulu darah
b)        Pengguntingan bersifat simetris dan anatomis sehingga penjahitan kembali lebih mudah dan penyembuhan lebih memuaskan.
Sedangkan kerugiannya Dapat terjadi ruptur perinium tingakat III inkomplit (laserasi sampai ke sfingter ani) atau komplit (laserasi dinding rektum)
3).  Episiotomi lateralis
                 Episiotomi lateralis yaitu insisi yang dilakukan ke arah lateral dari kira-kira jam 3 atau jam 9 menurut arah jarum jam. Jenis eposiotomi ini sekarang tidak dilakuakan lagi karena dapat menimbulkan banyak komplikasi.
                                                     Tabel 2.1.
Tingkat episiotomy
Jaringan terkena
Keterangan
Pertama
  • Fourchette
  • Kulit perineum
  • Mukosa vagina
·         Mungkin tidak perlu dijahit
·         Menutup sendiri
Kedua
  • Fascia + muskulus badan perineum
  • Perlu dijahit
Ketiga
  • Ditambah dengan sfincter ani
  • Harus dijahit legeartis sehingga tidak menimbulkan inkontinensia
Keempat
  • Ditambah dengan mukosa rectum
  • Teknik menjahit khusus sehingga tidak menimbulkan fistula
Sumber: Manuaba (2007)


2.3.5. Prosedur pelaksanaan episiotomi
                        Prosedur melakukan episiotomi menurut Sarwono (2006)
1)    Persiapan
2)    Prosedur utama (persalinan)
3)    Aseptik/antiseptic
4)    Episiotomi
5)    Anastesi lokal
a)    Jelaskan pada ibu tentang apa yang dilakukan dan agar ibu merasa tenang.
b)    Pasanglah jarum no. 22 pada spuit 10 ml, kemudian isi spuit dengan bahan anastesi (lidokain HCl 1 % atau Xilokain 10mg/ml).
c)    Letakkan 2 jari telunjuk dan jari tengah diantara kepala dan perineum. Masuknya bahan anastesi (secara tidak sengaja) dalam sirkulasi bayi, dapat menimbulkan akibat yang fatal, oleh sebab itu gunakan jari–jari penolong sebagai pelindung kepala bayi.
d)    Tusukkan jarum tepat dibawah kulit perineum pada daerah komisura posterior (fourchette) yaitu bagian sudut bawah vulva.
e)    Arahkan jarum dengan membuat sudut 45 derajat kesebelah kiri (atau kanan) garis tengah perineum. Lakukan aspirasi untuk memastikan bahwa ujung jarum tidak memasuki pembuluh darah (terlihat cairan dalam spuit).
f)     Sambil menarik mundur jarum suntik, infiltrasikan 5-10 ml lidokain 1 %.
g)    Tunggu 1-2 menit agar efek anastesi bekerja maksimal, sebelum episiotomi dilakukan.
                    Jika kepala janin tidak segera lahir, tekan insisi episiotomi diantara his sebagai upaya untuk mengurangi perdarahan.
                    Jika selama melakukan penjahitan robekan vagina dan perineum, ibu masih merasakan nyeri, tambahkan 10 ml Lidokain 1 % pada daerah nyeri.
                    Penyuntikan sampai menarik mundur, bertujuan untuk mencegah akumulasi bahan anastesi hanya pada satu tempat dan mengurangi kemungkinan penyuntikan kedalam pembuluh darah.
6)    Tindakan episiotomi
a)    Pegang gunting yang tajam dengan satu tangan.
b)    Letakkan jari telunjuk dan tengah diantara kepala bayi dan perineum, searah dengan rencana sayatan.
c)    Tunggu fase acme (puncak his) kemudian selipkan gunting dalam keadaan terbuka antara jari telunjuk dan tengah.
d)    Gunting perineum, dimulai dari fourchat (komissura posterior) 45 derajat ke lateral (kiri atau kanan).
7)    Lanjutkan pimpin persalinan.
8)    Melahirkan Bayi
9)    Melahirkan Plasenta
10) Menjahit luka episiotomi
a)    Atur posisi ibu dan menjadi posisi litotomi dan arahkan cahaya lampu sorot pada aderah yang benar.
b)   Keluarkan sisa darah dari dalam lumen vagina, bersihkan daerah vulva dan perineum.
c)    Kenakan sarung tangan yang bersih/DTT. Bila perlu pasanglah tampon atu kasa ke dalam vagina untuk mencegah darah mengalir ke daerah yang akan dijahit.
d)   Letakkan handuk untuk kain bersih di bawah bokong ibu.
e)    Uji efektifitas anastesi local yang diberikan sebelum episiotomi masih bekerja (sentuhkan ujung jarum pada kulit tepi luka). Jika terasa sakit, tambahkan anastesi local sebelum penjahitan dilakukan.
f)    Atur posisi penolong sehingga dapat bekerja dengan leluasa dan aman dari cemaran.
g)   Telusuri daerah luka menggunakan jari tangan dan tentukan secara jelas batas luka. Lakukan jahitan pertama kira-kira 1 cm di atas ujung luka di dalam vagina. Ikat dan potong salah satu ujung dari benang dengan menyisakan benang kurang lebih 0,5 cm.
h)   Jahitlah mukosa vagina dengan menggunakan jahit jelujur dengan jerat ke bawah sampai lingkaran sisa hymen
i)Kemudian tusukkan jarum menembus mukosa vagina di depan hymen dan keluarkan pada sisi dalam luka perineum. Periksa jarak tempat keluarnya jarum di perineum dengan batas atas irisan episiotomi.
j)Lanjutkan jahitan jelujur dengan jerat pada lapisan subkutis dan otot sampai ke ujung luar luka (pastikan setiap jahitan pada kedua sisi memiliki ukuran yang sama dan lapisan otot tertutup dengan baik)
k)   Setelah mencapai ujung luka, balikkan arah jarum ke lumen vagina dan mulailah merapatkan kulit perineum dengan jahian secara jelujur.
l)Bila telah mencapai lingkaran hymen, tembuskan jarum ke luar mukosa vagina pada sisi yang berlawanan dari tusukan terakhir subkutikuler.
m) Tahan benang (sepanjang 2 cm) dengan klem, kemudian tusukkan kembali jarum pada mukosa vagina dengan jarak 2 mm dari tempat keluarnya benang dan silangkan ke sisi berlawanan hingga menembus mukosa pada sisi berlawanan.
n)    Ikat benang yang dikeluarkan dengan benang pada klem dengan simpul kunci
o)    Lakukan kontrol jahitan dengan pemeriksaan colok anaus  (lakukan tindakan yang sesuai bila diperlukan)
p)    Tutup jahitan luka episiotomi dengan kasa yang diberi  cairan antiseptic.
2.3.6. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Episiotomi
               Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan episiotomi menurut Ari sulitiyawati (2010)
1)        Jelaskan pada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan seta tujunanya.
2)        Sebelum melakukan episiotomi berikan  anasetesi terlebih dahulu karena merupakan asuhan sayang ibu.
3)        Jangan melakukan episiotomi terlalu dini karena akan menyababkan perdarahan, tunda sampai perinium menipis adan pucat serta kepala banyi namapak di vulva 5-6 cm.
4)        Arah gunting mediolateralis untuk menghindari ruptur totalis.
2.3.7. Manfaat Episiotomi
Menurut Rohani,Reni.dkk.(2011), manfaat episiotomi  adalah sebagai berikut:
1)        Mencegah robekan perinium derajat tiga, terutama sekali dimana sebelumnya ada laserasi yang luas didasar panggul.
2)        Menjaga  uretra dan klitoris dari truma yang luas. Kemungkinan mengurangi regangan otot penyangga kandung kemih atau rektum yang terlalu kuat dan berkepanjangan, yang kemudian menyebabkan inkotinesia urine dan prolps vagina.
3)        Mengurangi lama kala II yang mungkin penting terhadap kondisi ibu dan keadaan janin (fetal distress)
4)        Memperbesar vagina jika di perlukan manipulasi untuk melahirkan bayi, contahnya pada persentasi bokong atau pada persalinan dengan forsep
5)        Mengurangi risiko luka intranial pada bayi prematur.
2.3.8. Kerugian episiotomi
Menurut Rohani, Reni.dkk.(2011) beberapa kerugian yang perlu diingat adalah sebagai berikut :
1)            Dapat  menyebabkan nyeri pada masa nifas yang tidak perlu, sering membutuhkan penggunaan analgesik
2)            Menyababkan ketidak nyamanan dan nyeri karena insisi episiotomi juga penjahitan pada saat berbaring dan duduk di tempat tidur. Banyak  ibu mengalami nyeri pada saat duduk di kursi dan pada saat berjalan neyeri bisa menyababkan kesulitan pada saat BAK
3)            Nyeri dan ketidak nyamanan dapat berlangsung lama sampai beberapa minggu atau satu bulan postpartum
4)            Terjadi perdarahan
5)            Insisi dapat bertambah panjang jika persalinan tidak terkontrol atau jika insisi tidak dilakukaan baik.
6)             Selalu ada resiko terjadi infeksi, terutama jika berdekatan dengan anus.




2.3.9.  Faktor –fakto yang berhubungan dengan tindakan episiotomi
                        2.3.9.1. Usia ibu
Menurut hartono(2003) umur istri diatas 35 tahun sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai  dua orang anak. Karena ibu di usia tersebut tidak di ajurkan utuk mempunyai anak atau hamil lagi karena alasan medis dan alasan lainnya. Hubungan dengan tindakan episiotomi adalah apabila melahirkan lebih dari melewati batas relative akan lambat utuk penyembuhan
Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh Aryanti (2008) di lakukan di puskesmas magasana Yokyakarta menyatakan dari 74 kasus ibu bersalin terdapat 45 kasus mengalami tindakan episiotomi. Sebanyak 40 kasus terjadi pada ibu usia 30 tahun.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Syafari (2009) di BPS “Y” dari 95 persalinan normal 68 persalinan mengalami tindakan episiotomi terdapat jumlah ibu yang < 20 tahun sebanyak 10 orang dan usia 35 tahun mengalami tindakan episiotomi sebanyak 23 orang.
                        2.3.9.2. Berat Badan Lahir
Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang di gunakan  untuk pemeriksaan kesehatan  anak yang di kelompokan menurut umur (Nursalam, 2008)
Berat badan lahir adalah berat badan yang di timbang 24 jam  pertam setelah kelahiran. Semakin besar bayi yang dilahirkan meningkatkan resiko terjadinya episiotomi. (Sarkini, 2007)


                        2.3.9.3. Kondisi perineum
          Kondisi perineum merupakan pembukaan dari pintu atas panggul. Terletak anatara pulpa dan anus. Tidak semua kelahiran anak pertama disertai denagan perineum yang kaku. Tatapi jika perinium sangat kaku sehingga persalianan berlangsung lama dan proses persalinan terjdi sulit, perlu dilakukan episiotomi.(Haspari, 2010)
                        2.3.9.4. Jenis tindakan persalinan
          Jika berat janin diperkirakan mencapai 4 kg, maka hal ini dapat menjadi indiaksi dilakukannya persalinan secar. Alasan yang manjasi buktinya yaitu: resiko komplikasi akan menjadi besar dan berbahaya jika bayi dilahirkan melalui vagina. Namun mungkin saja resiko ini terlampaui jika ternyata rongga panggul ibu lebih  lebar. Jika di temukan porsio persalinan macet karena bahu bayi yang lebar misalnya, bantulah dengan episiotomi ( hapsari 2010). Episiotomi boleh dilakukan jika persalina menggunakan alat bantu tujuannya untuk mempermudah tindakan.
                        2.3.9.5. Penolong persalinan
          Penolong persalinan adalah seseorang yang mampu dan berwewenang memberikan asuhan persalinan. Pimpinan persalinan yang salam merupakan suatu yang menyebabkan dilakukannya tindakan episiotomi. Sehinga deperlukan kerjasama dengan ibu hingga dan pirasat manual yang dapat ekspulasi kepalah, bahu dan seluruh badan bayi untuk mencegah laserasi


BAB III
 TINJAUAN KASUS
                                                                                           
ASUHAN KEBIDANAN  PADA IBU BERSALIN PADA NY”D” G1P0A0 JANIN TUNGGAL  HIDUP  PRESENTASI KEPALA DENGAN TINDAKAN EPISIOTOMI DI RUANG BERSALIN RSUD PALEMBANG BARI
 TAHUN 2013

Tangggal pengkajian   : 05 Desember  2013
Waktu pengkajian       : 14.30.WIB
Tempat pengkajian      : Ruang Bersalin RSUD Palembang BARI
Tanggal Masuk RS      : 05 Desember  2013 pukul 10.30 WIB
No.Rekam Medik       : 10.27.30

I.             DATA SUBJEKTIF
A.          BIODATA
Nama pasien          : NY” D
Umur                     : 18 thn
Agama                   : Islam
Suku/bangsa          : Palembang / Indonesia
Pendidikan                        : Smp
Pekerjaan               : IRT
Alamat                  : Jln. KH.zhari RT.51 No.750 kel 4-5 ulu palembang
Nama suami          : Tn ” A”
Umur                     : 22 thn
Agama                   : Islam
Suku/bangsa          : Palembang/ Indonesia
Pendidikan                        : SMP
24
 
Pekerjaan               :Wiraswasta
Alamat                  : Jln. KH.zhari RT.51 No.750 kel 4-5 ulu palembang
B.     ALASAN DATANG
Pada tanggal  05 Desember  2013 pukul 10.30  WIB ibu Masuk ruang bersalin  dari ruang ponek RSUD palembang Bari.Ibu mengaku hamil 9 bulan, Mengaku hamil anak yang pertama  sudah keluar air 05.00 wib serta mengeluh sakit perut menjalar ke pinggang.

C.     DATA KEBIDANAN
1.      Riwayat perkawinan
Status perkawinan       : kawin
Jika kawin                   : Berapa kali    :1 kali
  Lamanya       :1 tahun
  Usia               :17 thn
2.      Riwayat haid
Menarche                      : 13 thn
Siklus                            : 28 hari
Lamanya                       : ± 7 hari
Bauh haid                     : Amis
Warna                           : Merah
Jumlah                          : ± 2 kali ganti pembalut/hari
Disminorhoe                 : Tidak ada
Bentuk pendarahan      : Cair

3.      Riwayat kehamilan Persalinan dan Nifas yang lalu
No
Tahun persalinan
Umur kehamilan 
Jenis persalinan
Penolong
Penyulit
Nifas
Jk anak
Bb anak
Pb anak
Ket.
1
Ini












4.      Riwayat kehamilan sekarang
·         GPA                                  : G1P0A0
·         HPHT                                :01 03 - 2013
·         TP                                      :08 - 12- 2013
·         Usia Kehamilan                 : 39 minggu 6  hari
·         ANC                                 : 4 kali
·         TT                                      :2 Kali
·         Tablet Fe                           :60 tablet
·         Gerakan janin                    : (+)
·         Tanda bahaya                    : Tidak Ada
·          Keluhan selama hamil      : Sering Keputihan

D.    DATA KESEHATAN
·           Riwayat penyakit yang pernah di derita


TB                                      : Tidak ada
Malaria                               : Tidak ada
Tifoid                                 : Tidak ada
Jantung                              : Tidak ada
Hipertensi                          : Tidak ada
DM                                    : Tidak ada
Hepatitis                            : Tidak ada
Ginjal                                 : Tidak ada


·         Riwayat Operasi Yang Pernah di Derita : Tidak pernah  melakukan operasi
·           Riwayat kesehatan keluarga 
Keturunan kembar                                    : Tidak ada
·           Riwayat penyakit keluarga/keturunan
TB                                                                        : Tidak ada
Malaria                                                     : Tidak ada
Tifoid                                                       : Tidak ada
Jantung                                                     : Tidak ada
Hipertensi                                                 : Tidak ada
DM                                                           : Tidak ada
Hepatitis                                                   : Tidak ada


E.        RIWAYAT KB
Pernah menjadi aseptor KB                                :  Belum Pernah
Jenis Kontrasepsi yang digunakan                       : Tidak ada
Alasan berhenti KB                                             :  Tidak ada
Masalah selama penggunaan KB                         : Tidak ada
F.        DATA KEBIASAAN SEHATI-HARI
1.      Nutrisi            
Pola makan                              : ±3X /hari
Porsi                                        : 1 piring nasi beserta lauk-pauk, sayur-sayuran dan  buah-buahan
Pola minum                             : ± 8 gelas
Keluhan                                   : Tidak ada
Pantangan                               : Tidak ada
2.      Eliminasi
BAK                                       : ± 6 kali/hari
BAB                                        : ±1 kali/hari
3.      Isitirahat dan Tidur
Tidur siang                              : 1-2 jam sehari
Tidur malam                            :  6-7 jam/hari
4.      Olahraga dan Rekreasi
Olahraga                                  : Jalan-jalan di pagi hari
Rekreasi                                  : Sekali-sekali
5.      Personal hygiene
Mandi                                      : ± 2 kali sehari
Gosok gigi                               : ± 2  kali sehari
Ganti pakaian dalam               : ± 2 kali sehari dan ketika lembab
G.       DATA PSIKOLOGI
Hubungan dengan keluarga          : Baik
Hubungan dengan orang lain        : Baik
Respon terhadap kehamilan          : Baik
Harapan terhadap kehamilan        : Sangat di harapkan
Rencana melahirkan                      : Di Bidan
Persiapan yang dilakukan             : Fisik, Perlengkapan persalinan dan
materi
Rencana mennyusui                      : Asi eksklusif
Rencana merawat anak                 : Dirawat bersama keluarga
Pengambilan keputusan                : Suami
Kebiasaan/adat istiadat                 : Tidak ada

II.                DATA OBJEKTIF
A.    PEMERIKSAAN FISIK
1.                                                    Keadaan Umum
Kesadaran                           : Compos mentis
Keadaan Emosional            : Baik

2.                                                    Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah                   : 100/70 mmHg
Polse                                   : 84 kali/menit
Respirasi                             : 20 kali/menit
Suhu                                   : 360C
3.                                                    Status Gizi
Berat Badan

·         Sebelum Hamil      : 44kg
·         Sekarang               : 56 kg
Tinggi Badan                      : 148 cm
Lila                                                 : 24 cm

B.     PEMERIKSAAN KEBINAN
1)         INSPEKSI
Kepala                                            :Simetris, tidak ada benjolan, Rambut tidak rontok,bersih  tidak ada  ketombe
Muka
           Closma gravidarum              : Ada
           Oedema                                : Tidak ada

Mata
Kelopak mata                       : Tidak oedema
Konjungtiva                         : Tidak pucat
Sclera                                   : Tidak ikterik
Reflek Pupil                         : Baik (+/+)

Mulut dan gigi
Gigi                                      : Tidak ada caries
Gusi                                      : Tidak ada stomatitis
Kelainan                               : Tidak ada keainan
Telinga                                            : Tidak ada serumen
Leher
Kelenjar tiroid                      :Tidak ada pembesaran
Kelenjar limfe                      :Tidak ada kelainan
Vena jugularis                      :Tidak ada kelainan
Payudara                            
Keaadan                               : Simetris
Putting susu                                     : Menonjol
Areola mamae                      : Hiperpigmentasi
Pengeluaran cairan               : Belum ada
Masa                                     : Tidak ada
Kelainan                               : Tidak ada
Abdomen
Keadaan                               : simetris
Bekas operasi                       : Tidak ada
Strie                                      : Ada
Linea                                    : Ada

Eksrimitas
Atas
Oedema                                : Tidak ada
Pergerakan                           : +/+

Bawah
Oedema                                : Tidak ada
Pergerakan                           : +/+
Varices                                 : Tidak ada
Refleks patella                     : Ka/ki (+/+)
Genetalia
Kebersihan                           : Bersih
Kelenjar bartholini               : Tidak ada pembekakan
Oendema                              : Tidak ada
Varices                                 : Tidak ada
Perineum                              : Menonjol
Pengeluaran cairan               : Keluar  cairan  berwarna jernih dan berbau amis
Pemeriksaan Dalam
Portio                                      : Lunak, Medial
        Pembukaan servix                   : 7 cm
        Penipisan                                 : 70%
Ketuban                                    : (-), warna Jernih, bau amis,  Tidak bercampur mekonium.
Presentasi                                 : Kepala
Penurunan                                : 3/5
Petunjuk                                   : UUK kanan depan

2.      PALPASI
Leopold I            : Tinggi pundus uteri  3 jari  dibawah prosesus
  xiphoideus (28 cm),bagian atas teraba bokong.
Leopold II           : Sebelah kanan teraba besar dan datar (punggung)
 sebelah kiri teraba bagian-bagian terkecil janin.
Leopold III         : Bagian terbawah teraba bulat keras  dan tidak dapat
 di goyangkan (kepala)
Leopold IV           : Bagian terbawah janin Sudah memasuki PAP ,3/5
TBJ                        : 2635 gram
                                (TFU-12)X155 (28-12)x 155: 2635
His                         : Teratur
      Frekuensi         : 4x/10’/30”
Kandung kemih    : Penuh
3.         AUSKULTASI 
DJJ                       : (+)    
Frekuensi              :132X/menit
Lokasi                  : Di bawah pusat  sebelah kanan
4.      PERKUSI
Refleks patella ka/ki    : +/+

C.  PEMERIKSAAN PENUNJANG
1)         Pemeriksaan lab
a)         Darah
- Golongan Darah          : O
- HB                               :11,7 gram %

b)         Urine
-    ProteiN                        : -
-    Glukosa                       : -
2)         Pemeriksaan panggul
Distensia spinarum                : Tidak di lakukan
Distensia cristarum                : Tidak di lakukan
Distensia eksterna                  : Tidak di lakukan
Lingkar panggul                    : Tidak di lakukan
3)      USG                                        : Dilakukan Oleh dokter SpoG

III.             ASESSMENT
A.                                                               Diagnosa        : GIPOAO hamil aterm  inpartu  kala 1 fase laten JTH  preskep
B.       Masalah                 : Ibu merasa mules dan cemas akan keadaannya
C.       Kebutuhan           :
·      Observasi Tanda-tanda Vital
·      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy
·      Kosongkan kandung kemih
·      Lakukan pemantuan persalinan His, DJJ dan pemeriksaan dalam
·      Motivasi dan dukungan emosional
·      KIE tentang kebutuhan nutrisi
·      Menyiapkan alat-alat partus set

IV.             PLANING
1.                                                                   Mengbservasi  tanda-tanda vital
                        Tekanan Darah            : 100/70 mmHg
Polse                            : 84 kali/menit
Respirasi                      : 20 kali/menit
Suhu                            : 360C
-            Ibu mengetahui hasil pemeriksaan yang di lakukan
2.                                                                   Kolaborasi dengan dokter  dalam pemberian therapy
Thrapy yang di berikan yaitu
IVFD RL +  Induksin 1 ampul GTT xx/menit
Injeksi Cepotaxme 2 x1 gram
3.                                                                   Mekalukan pengosongan kandung kemih dengan pemasangan kateter
-                      Kandung kemih sudah kosong
4.                                                                   Melakukan  pemantauan persalinan dengan hasil pemeriksaan dalam
DJJ                                          : 144x/menit
His                                           : 4x/10’/30”
Portio                                      : lunak
        Pembukaan servix                   :7 cm
        Penipisan                                 : 70%
Ketuban                                  : Negatif
Presentasi                                : Kepala
Penurunan                               : 3/5
Petunjuk                                  : UUK kanan depan
-                      Ibu mengetahui  hasil pemeriksaan
5.                  Memebri KIE tentang dukungan emosional dan motivasi pada ibu agar tidak merasa takut dalam menghadapi proses persalinan
-           Ibu tidak merasa takut dalam   menghadapi persalinan 
6.                  Memberi KIE tantang kebutuhan nutrsi dengan menganjurkan kepada ibu untuk menkonsusmsi makanan bergizi agar pada saat persalinan ibu tidak merasa lemas, serta ajaurkan ibu untuk minum teh hangat agar ibu sedikit bertenaga.
-                      Ibu mengerti dengan penjelsan yang di berikan
7.                  Menyiapkan alat-alat partus set untuk proses persalinan 


-                      Alat-alat sudah disiapkan



















KALA II
Pengkajian dilakukan pada Tanggal  :05 desember  2013,Pukul 15.00 di ruang bersalin  RSUD Palembang Bari
I . SUBJEKTIF
            Ibu merasa mules dan timbul rasa ingin meneran

II. OBJEKTIF
1)      Keadaan Umum
Kesadaran                         :Compos mentis
Keadaan Emosional          :Baik
2)      Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah                  :100/80 mmHg
Polse                                  :80x/menit
Respirasi                            : 20x menit
Suhu                                  : 360C
3)      HIS                                  
Frekuensi                           : 5x/10’/40”
Blas                                   : Kosong
4)      DJJ           
Sifat                                  : Teratur
Frekuensi                           : 150X/menit
Lokasi                               : Sebelah kanan  ibu
5)      Perineum                           : Menonjol
6)      Vulva                                : Membuka
7)      Anus                                  : Terdapat tekanan
8)      Pemeriksaan Dalam
Portio                                : Tidak teraba
Pembukaan                        : 10 cm
Pendataran                        : 100%
Ketuban                             :(-),warna Jernih,  Bau amis,Tidak  bercampur mekonium.
Presentasi                          :Kepala
Penurunan                         :1/5
Petunjuk                            :UUk kanan depan

III. ASESSMENT
A.    Diagnosa         : G1POAO hamil aterminpartu kala II JTH  preskep
B.     Masalah           : perut terasa mules dan ibu ingin meneran
C.    Kebutuhan      : Pimpinan persalinan

IV.    PERENCANAAN
1.                       Mencuci tangan dengan tujuh langkah efektif sebelum dan sesudah melakukan tindakan untuk pencegahan infeksi
-       Mencuci tangan sudah dilakukan
2.                         Mengbservasi  tanda-tanda vital
 Tekanan Darah            : 100/70 mmHg
Polse                            : 84 kali/menit
Respirasi                      : 20 kali/menit
Suhu                            : 360C
-        Ibu mengetahui hasil pemeriksaan yang di lakukan
3.                       Mengobservasi DJJ dan His dengan hasil
DJJ : 144x/menit
His : 5 x/10’/40”
-        Observasi sudah dilakukan
4.                        Mempersiapkan ibu untuk proses persalinan dengan mengatur ibu pada posisi litotomi
-        Ibu dalam posisi titotomi
5.                         Menganjarkan ibu cara meneran yang pada saat ada HIS meneran seperti ingin BAB dan istrat jika tidak ada HIS
-   Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan
6.                        Lakukan pimpinan persalinan serta melakukan episiotomy
Pukul 15.05 WIB ibu di anjurkan untuk meneran pada setap kontraksi, ketika Kepala sudah tamapak pada perinim 5-6 cm tangan kanan penolong berada di depan perineum untuk menahan perineum dan kepala tidak maju-maju maka di lakukan episiotomy secara mediallatera.  Setelah dilakuakn episiotomy tangan kanan penolong berada di perineum untuk menahan kepala agar  tidak terjadi defleksi yang berlebihan dan kepala sudah diperiksa apakah ada lilitan tali pusat pada leher bayi. Tangan di letakan secara biparietal untukmelahirkan bahu depan tarik curam ke atas untmelahirkan bahu anrerior dan tarik curam kebawa untuk melahirkan bahu posterior kemudian dilakukan sanggar  susur untuk melahirkan badan hingga kaki bayi lalu di nilai menngunakan apgar score dan melakukan perawatan bayi baru lahir.
-      Pada pukul 15.15 WIB  bayi lahir spontan. jenis kelamin perempuan dengan BB 2500 gram, panjang badan 46 cm, Lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 35 cm apgar scor 9/10 anus (+)
7.         Melakuakan perawatan bayi baru lahir yaitu  melakukan pengeringan tubuh bayi kemudian melukan penjempitan dan pemotongan tali pusat Melakukan IMD dengan meletakan bayi diantar kedua payudara ibu dengan muka menghadap kesalah satu putting susu ibu dan menyelimuti bayi dan pemebrian salap mata.
-   Perawatan bayi baru lahir sudah dilakuakan.




KALA III
Tanggal pengkajian :05 Desember  2013
Waktu pengkajian : 15.30  WIB
1.                                                                                             SUBJEKTIF
Ibu mengatakan lemas
II.                                                                                                                               OBJEKTIF
1.      Keadaan umum          
·         Kesadaran                   : Compo metis
·         Keadaan emosional     :Stabil
2.      Tanda-tanda Vital
·         Tekanan Darah            :100/80 mmHg
·         Polse                            :80x/menit
·         Respirasi                      :20x menit
·         Suhu                            :360C
3.      Plasenta
·         Kelengkapan               : Sengkap
·         Kotiledon                    : 18
·         Selaput                        : lahir lengkap tidak ada robekan
·         Panjang tali pusat        : 45 cm
·         Insersi                          : centralis
·         Berat                           : ±600 gram
4.         TFU                                      : Sepusat
5.         Kontraksi                              :+
6.         Kandung kemih                    :Kosong
7.         Perdarahan                            :± 200 cc



III.  ASESSMENT
A.            Diagnosa         :P1A0 Post partum kala III
B.            Masalah           : Ibu merasa masih mules karena plasenta belum lahir
C.            Kebutuhan      :
·           Observasi Tanda-Tanda Vital
·           Lakukan manajeman aktif kala III
·           Lakukan Eksplorasi ulang
·           Melakukan masase uterus
·           Melakuakan heating perineum
·           lakukan perawatan luka episiotomi

IV. PLANNING
1.             Mengobservasi tanda-tanda vital dengan hasil
Tekanan Darah            :100/80 mmHg
Polse                            :80x/menit
Respirasi                      : 20x menit
Suhu                             : 360C
-           Ibu mengetahui hasil pemeriksaan yang di lakukan
2.                  Melakukan manajemen aktif kala III Pemberian oksitosin 10 unit secara IM dipaha sebelah kiri bagian luar.Melakukan peregangan tali pusat terkendali Mengenali tanda-tanda plasenta lepas seperti: adanya semburan darah secara tiba-tiba,tali pusat memanjang, uterus membundar.
-           Manajemen aktif kala III telah dilakukan Plasenta lahir dengan lengkap,melakukan penilaian plasenta diameter plsenta ± 5 cm, Kontiledon 18, Selaput lahir lengkap tidak ada robekan,Panjang tali pusat 45 cm,,Insersi centralis, Berat plasenta 600 gram.
3.        Melakukan eksplorasi untuk mentahuhi ada tidaknya sisa plasenta
-           Hasil yang dilakukan tidak ada sisa plasenta yang tertinggal.
4.        Melakukan masase uterus ± 15 menit untuk merangsang kontraksi uterus
           -                        Masase telah dilakukan kontraksi uterus baik
5.       Melakuakan heating perineum dengan  menggunakan benang kronik 2/0 heating di lakukan secara jelujur.
           -                        Heating sudah dilakukan dan tidak ada perdarahan
6.       Melakukan perawatan luka episiotomi dengan kassa betadine. Dengan cara mamasukan kassa betadin setengah di dalam vagina dan setengahnya menutupi jahitan episiotomy di luar, sambil mengajarkan  kepada ibu cara pengantian kasa betadine, yaitu ketika selesai BAK atau BAB, dan mandi.
           -                        Ibu mengerti dengah hasil penjelasan.
7                 Membersihkan ibu dengan air DTT  dan melakukan pemasangan pembalut dan gurita ibu
-                                     Ibu merasa nyaman.
8                 Memebrikan KIE mengenai kebutuhan nutrisi ibu. Menganjurkan ibu untuk mengonsumsi makanan bergizi seperti manan ikan,tahu tempe,serta mengonsumsi buah serta sayur-sayuran.
-            Ibu mengerti dengan penjelasan












KALA IV
Pengkajian Dilakukan pada tanggal 05 desember 2013
Waktu pengkajian : 18.00 WIB
I.       SUBJEKTIF
Ibu mengatakan mules dan masih sangat lelah
II.  OBJEKTIF
1.                     Keadaan umum               : lemas
2.                     Kesadaran                                    : Compos mde
3.                     Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah                :100/80 mmHg
Polse                                :80x/menit
Respirasi                          :20x menit
Suhu                                :360C
3.                     Kontrasi uterus                : baik
4.                     TFU                                             :2 jari dibawah pusat
5.                     Kandung Kemih              : kosong
6.                     Perdarahan                                   : ± 50 cc
III. ASESSMENT
A.    Diagnosa              : P1A0 post partum kala IV
B.     Masalah                : Ibu masih merasa lelah  dan perut terasa mules
C.     Kebutuhan           :  
·                  Observasi tada-tanda vital
·                  Observasi perdarahan
·                     Beri KIE mengenai keadaan Fisiologi setelah melahirkan
·                  Beri KIE tentang personal hygine
·                  Beri KIE mengenai pemenuhan nutrisi
·                  Beri KIE tentang ASI Eklusif
·                  Beri KIE tentang KB
·                     Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy
·                     Beri KIE tetang kunjungan ulang
IV.PLANNING
1.                       Mengobservasi tanda-tanda vital seperti
Keadaan umum           : Baik
 Kesadaran                  : Compos metis
Keadaan emosional     :Stabil
Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah            :100/80 mmHg
Polse                            :80x/menit
Respirasi                      :20x menit
Suhu                            :360C
            -           Ibu mengetahui hasil pemeriksaan yang dilakukan.
2.                       Melakukan observasi Perdarahan ± 50 CC  dan kontraksi uterus baik
-           Observasi telah dilakukan
3.                       KIE mengenai Keadaan Fisiologis Setelah melahirkan, Menjelaskan kepada ibu bahwa kaadaan yang dialami oleh ibu saat ini adalah suatu yang fisilogis(normal), Rasa mules yang timbul disebabkan oleh kontraksi uterus untuk mencegah terjadinya perdarahan.
            -           Ibu mengerti dengan penjelasan
4.                       Memberikan KIE mengnai personal hygine dengan Menjelaskan kepada ibu tentang personal hygine,untuk menjaga kebersihan kemaluan, perawatan luka episiotomy dengan menganti kasa bitadine cara pengantian kasa betadine, yaitu kitika selasai BAK atau BAB, dan mandi.
-                      Ibu mengerti dengan penjelesan yang di
5.                        Memberikan KIE tentang nutrisi yaitu Menganjurkan kepada ibu untuk menonsumsi makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran,buah-buahan,susu,tahu,tempe,ikan dll.
-                      Ibu menerti dengan penjelasan yang di berikan 
6.                       Memberikan KIE tentang ASI eklusif yaitu hanya memberikan asi saja selama 6 bulan pertama tanpa memberikan makanan tambahan dan menjelasakan keutungan ASI kepada ibu:
·      Meningkatkan kekebalan tubuh bayi
·      Mempercepat penyembuhan ibu pada masa nifas
·      Mencegah bayi dari batuk pilek, radang tenggorokan, diare, dan gangguan pernafasan
·      Melindungi bayi dari alergi
·      Aman dan terjamin kebersihannya.
-                      Ibu mengerti dengan penjelasan
7.                       Memberikan KIE tentang KB, menganjurkan kepada ibu agar menggunakan alat konrasepsi dahulu menimal 2 tahun.
-                      Ibu mengerti dengan penjelsan yang diberikan
8.                       Kolaborasi dengan dokter  dalam pemberian therapy
Thrapy yang di berikan yaitu
IVFD RL +  Induksin 1 ampul GTT xx/menit
Injeksi Cepotaxme 2 x1 gram
T/oral asamefenamat 3x1 tablet
Vitamin B kompleks 2x1tablet
Terapy sudah diberikan
9.                  Memberi tahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang yaitu  satu atau dua minggu  setelah persalinan,
-                      Ibu menerti dengan penjelasan yang diberikan
Pada pukul 18.30 WIB pasien dipindahkan keruangan  nifas II     
 



makalah PEMBERIAN VITAMIN K DAN SALEP MATA PADA BBL OLEH : NEVI SULISTIKA NPM: 11154011211 KELAS: PAKB III REG A3 DOSEN PEMBIMBING : ANDINA PRIMITASARI. SST PROGRAM STUDI KEBIDANAN STIK BINA HUSADA PALEMBANG 2012 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulianj Panjatkankehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianyakepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang PEMBERIAN VITAMIN K DAN SALEP MATA PADA BBLDalam penyusunan makalah ini penulis tidak lepas dari partisipasi berbagai pihak yang telah ikut serta memberikan saran dan bimbingan sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen yang telah membimbing pada pelajaran ini, dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan baik isi maupun cara penulisannya. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi terciptanya kesempurnaan makalah ini. Atas kritik dan sarannya penulis ucapkan terima kasih. Palembang, Desember 2012 penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… . BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1.2 Rumusan masalah……………………………………………………………………… 1.3 Tujuan …………………………………………………………………………………. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pemberian Vitamin K pada BBL……………………………………………………… 2.2.1. Pelaksanaan Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis…………………………. 2.1.2. Cara Pemberian dan Dosis Vitamin K………………………………………….. 2.1.3. Bentuk vitamin K……………………………………………………………… 2.1.4. Manfaat Vitamin K 2.1.5. Waktu pemberian vitamin K…………………………………………………… 2.2 Pemberian Salap Mata………………………………………………………………… 2.2.1 Indikasi dan Kontra indikasi pemberian obat pada mata…………………… 2.2.2 Keuntungan dan kerugian ……………………………………………………... 2.2.3. Syarat-syarat salep mata ………………………………………………………….. 2.2.4. Basis salep mata………………………………………………………………… 2.2.5. Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam 2.2.6. Menyediakan Sediaan Salep Mata……………………………………………… 2.2.7. Standart Operasional Prosedur Pemberian Salep Mata……………………….. BAB III PENUTUP 3.1 kesimpulan ……………………………………………………………………………. 3.2. Saran …………………………………………………………………………………. Daftar pustaka …………………………………………………………………………… BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bayi baru lahir bisa saja tiba-tiba mengalami perdarahan. Perdarahan dapat terjadi spontan atau akibat trauma, terutama trauma lahir. Pada kebanyakan kasus perdarahan terjadi di kulit seperti bintik bintik kemerahan atau kehitaman di bawah kulit, pada mata, seperti mata merah, hidung/mimisan, tali pusat berdarah dan saluran cerna (muntah atau berak darah), bahkan jika terjadi perdarahan otak (intrakranial), dan jika terjadi akibat dari proses persalinan bisa berakibat kematian ataukecacatan Ternyata sumber permasalahannya adalah bayi baru lahir mengalami kekurangan Vitamin K karena pembentukan dalam tubuh bayi baru lahir belum sempurna. Keadaan ini disebut Perdarahan akibat Defisiensi Vitamin K (PDVK).Walaupun angka kejadian Perdarahan akibat Defisiensi Vitamin K (PDVK) masih sedikit, tetapi jika dilihat dampaknya terhadap kelangsungan hidup dan kualitas anak maka perlu dilakukan pencegahanPDVK dapat terjadi spontan atau perdarahan karena proses lain seperti pengambilan darah vena atau pada operasi, disebabkan karena berkurangnya faktor pembekuan darah (koagulasi) yang tergantung pada vitamin K yaitu faktor II, VII, IX dan X. Sedangkan faktor koagulasi lainnya, kadar fibrinogen dan jumlah trombosit dalam batas normal.Mata adalah organ manusia yang berfungsi sebagai alat indra penglihatan. Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas – berkas cahaya pada retina, lantas dengan perantaran serabut – serabut nervus optikus, mengalihkan rangsangan ini ke pusat pengliahatan pada otak untuk ditafsirkan.Selain itu mata juga sangat sensitive terhadap rangsangan terutama rangsangan – ransangan nyeri.mata juga rentan terhadap infeksi bakteri atau virus atau juga sering mengalami trauma karena benda – benda asing yang berupa butiran – butiran kecil seperti debu dan asap. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan menjelaskan berbagai cara dan prosuder pemberian obat mata yang benar baik berupa salep serta cara untuk melakukan irigasi pada mata yang mengalami infeksi atau iritasi Sediaan setengah padat merupakan sediaan yang berbentuk massa yang lunak, ditujukan untuk pemakaian topikal, dimana sediaan ini mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan itu tercuci atau dihilangkan.Hal ini disebabkan karena sifat rheology plastis yang dimiliknya sehingga memungkinkan sediaan ini bentuknya akan tetap melekat sebagai lapisan tipis.Macam-macam dari sediaan setengah padat ini dapat dibedakan berdasarkan konsistensinya yaitu : salep (unguenta), pasta, krim (cream), cerata, jelly (Gelones). Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit ataupun selaput lendir, dimana bahan obat harus larut atau terdispersihomogen dalam dasar salep yang cocok. Sediaan salep mempunyai konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada suhu kamar tetapi mudah dioleskan.Macam-macam dari sediaan salep ini dapat dibedakan berdasarkan sifat farmakologi dan penetrasinya, yaitu : salep epidermis, salep endodermis, dan salep diadermis. Sedangkan berdasarkan salep yang di gunakan, dibedakan menjadi salep hidrofobik dan salep hidrofilik.Salep dengan berbagai jenis sering digunakan dalam menangani penyakit inflamasi kelopak mata, konjutiva, dan kornea.Paling sering diresepkan adalah antibiotic, bahkan anti inflamasi, dan berbagai kombinasi keduanya Dalam beberapa kali Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA), dan Kongres Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) ke VIII tahun 1998 dan ke IX tahun 2001 telah direkomendasikan pemberian profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir. Hal ini mendorong dilakukannya kajian oleh Health Technology Assesment (HTA) Depkes bekerjasama dengan organisasi profesi terhadap pemberian injeksi vitamin K1 profilaksis pada bayi baru lahir, yang merekomendasikan bahwa semua bayi baru lahir harus mendapat profilaksis vitamin K, regimen vitamin K yang digunakan adalah vitamin K1, dan cara pemberian secara intramuskular (Rekomendasi A). Di Indonesia selama ini pemberian vitamin K umumnya hanya diberikan pada bayi baru lahir yang memiliki risiko saja seperti BBLR, bayi lahir dengan tindakan traumatis, bayi lahir dari ibu yang mengkonsumsi obat anti koagulan, obat anti kejang dll. Berkaitan dengan kasus KIPI yang diduga kuat karena defisiensi vitamin K, dimana petugas kesehatan di lapangan tidak mengetahui bahwa berbagai kasus KIPI sebenarnya dapat dicegah dengan pemberian profilaksis vitamin K1, maka perlu suatu pedoman teknis tentang pemberian profilaksis vitamin K1. Salah satu manfaat vitamin K adalah meningkatkan penggumpalan dan pembekuan darah dalam tubuh. Vitamin K juga tak lepas dari ketiga jenisnya yaitu vitamin K1 yang disebut phytonadione, vitamin K2 yang disebut menaquinone, dan vitamin K3 yang disebut menadione. Dari ketiga jenis vitamin K tersebut, semuanya memiliki perbedaan sumber yang didapatkannya. Kali ini kami akan membahas manfaat pemberian vitamin k pada bayi yang baru lahir. 1.2. Rumusan Masalah 1) Bagaimana Pelaksanaan Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis.? 2) Bagaimana Cara Pemberian dan Dosis Vitamin K.? 3) Apa Manfaat Vitamin K 4) Kapan Waktu pemberian vitamin K .? 5) Apa sajaBentuk vitamin K .? 6) Apa Tujuan Pemberian Salep Mata.? 7) Apa saja Indikasi dan Kontra indikasi pemberian obat pada mata.? 8) Keuntungan dan kerugian pemberian salep mata? 9) Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyediakan Sediaan Salep Mata? 10) Apa Standart Operasional Prosedur Pemberian Salep Mata.? 1.3. Tujuan 1. Mengetahui Bagaimana Pelaksanaan Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis 2. Memahami BagaimanaCara Pemberian dan Dosis Vitamin K.? 3. Mengetahui Apa Manfaat Vitamin K 4. Mengetahui Kapan Waktu pemberian vitamin K 5. Mengetahui Apa Tujuan Pemberian Salep Mata 6. Mamahami Apa saja Indikasi dan Kontra indikasi pemberian obat pada mata 7. Mengetahui Keuntungan dan kerugian pemebrian salep mata 8. Memahami Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyediakan Sediaan Salep Mata 9. Apa Standart Operasional Prosedur Pemberian Salep Mata 10. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pemberian Vitamin K pada BBL Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu naftokuinon yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein yang berperan dalam pembekuan darah, seperti faktor II,VII,IX,X dan antikoagulan protein C dan S, serta beberapa protein lain seperti protein Z dan M yang belum banyak diketahui peranannya dalam pembekuan darah. 2.1.1 Pelaksanaan Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis a. Cara Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis 1. Semua bayi baru lahir harus diberikan injeksi vitamin K1 profilaksis. 2. Jenis vitamin K yang digunakan adalah vitamin K1 (phytomenadione) injeksi dalam sediaan ampul yang berisi 10 mg Vitamin K1 per 1 ml. 3. Cara pemberian profilaksis injeksi vitamin K1 adalah : Masukkan vitamin K1 ke dalam semprit sekali pakai steril 1 ml, kemudian disuntikkan secara intramuskular di paha kiri bayi bagian anterolateral sebanyak 1 mg dosis tunggal, diberikan paling lambat 2 jam setelah lahir. Vitamin K1 injeksi diberikan sebelum pemberian imunisasi hepatitis B0 (uniject), dengan selang waktu 1-2 jam. 4. Pada bayi yang akan dirujuk tetap diberikan vitamin K1 dengan dosis dan cara yang sama. 5. Pada bayi yang lahir tidak ditolong bidan, pemberian vitamin K1 dilakukan pada kunjungan neonatal pertama (KN 1) dengan dosis dan cara yang sama. 6. Setelah pemberian injeksi vitamin K1, dilakukan observasi. Persiapan Melakukan Suntikan Intra Muskular 1. Letakan bayi dengan posisi punggung di bawah. 2. Lakukan desinfeksi pada bagian tubuh bayi yang akan diberikan suntikan intramuskular (IM). Muskulus Kuadriseps pada bagian antero lateral paha (lebih dipilih karena resiko kecil terinjeksi secara IV atau mengenai tulang femur dan jejas pada nervus skiatikus). Muskulus deltoideus (Mengandung sedikit lemak atau jaringan subkutan sehingga memudahkan penyuntikan). Area ini digunakan hanya untuk pemberian imunisasi bukan untuk pemberian obat lain. Cara Memberikan Suntikan Intra Muskular 1. Pilih daerah otot yang akan disuntik. Untuk memudahkan identifikasi suntikan vitamin K1 di paha kiri dan suntikan imunisasi HB0 di paha kanan. 2. Bersihkan daerah suntikan dengan kasa atau bulatan kapas yang telah direndam dalam larutan antiseptik dan biarkan mengering. 3. Yakinkan bahwa jenis dan dosis obat yang diberikan sudah tepat. 4. . Isap obat yang akan disuntikkan kedalam semprit dan pasang jarumnya. 5. . Bila memungkinkan pegang bagian otot yang akan disuntik dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. 6. . Dengan satu gerakan cepat, masukkan jarum tegak lurus melalui kulit. 7. . Tarik tuas semprit perlahan untuk meyakinkan bahwa ujung jarum tidak menusuk dalam vena. Bila dijumpai darah: Cabut jarum tanpa menyuntikkan obat Pasang jarum steril yang baru ke semprit Pilih tempat penyuntikkan yang lain Ulangi prosedur diatas Bila tidak dijumpai darah, suntikan obat dengan tekanan kuat dalam waktu 3-6 detik. 8. Bila telah selesai, tarik jarum dengan sekali gerakan halus dan tekan dengan bola kasa steril kering. 9. Catat tempat penyuntikan untuk memudahkan identifikasi. b. Logistik 1. Sediaan Vitamin K1 : Ampul 10 mg/1ml 2. Semprit steril sekali pakai 1 ml dengan jarum 26 G (semprit tuberculin) 3. Menghitung kebutuhan berdasarkan : Sensus desa ( jumlah penduduk ) Proyeksi angka kelahiran (CBR x Jumlah Penduduk).Menjadi kebutuhan vitamin K1 sesuai jumlah bayi baru lahir. 4 Penyimpanan sediaan. Sediaan disimpan di tempat yang kering, sejuk dan terhindar dari cahaya. Gambar: pemberian vitamin K secara IM 2.1.2. Cara Pemberian dan Dosis Vitamin K Untuk pemberian vitamin K pada bayi yang baru lahir adalah dengan cara suntikan. Untuk lokasi yang jauh dari rumah sakit atau bidan pun tetap harus diberikan suntikan vitamin K agar mengurangi angka kematian pada bayi dan kecatatan. Untuk itu vitamin K suntik dosis 10 mg/1 ml. Diberikan biasanya setelah 1 jam setelah melahirkan. Cara pemberiannya yaitu disediakan 1 injeksi suntik baru, dengan ukuran 1 ml dan masukkan dosis 1 mg vitamin K1. Kemudian disinfeksi dilakukan dengan alkohol 75% seperlunya.Suntikan diberikan pada paha kiri bayi secara intra muskular. Kemudian tanda vital bayi di periksa untuk mengetahui adanya efek akibat pemberian vitamin K1 ini setelah 1 jam pemberian obat. Perlu diperhatikan cara pemberian ini mintalah dokter atau bidan yang melakukannya. Dengan demikian, pentingnya pemberian vitamin K pada bayi sudah anda ketahui.Untuk itu jagalah ibu hamil serta masa persalinan dan bayi serta balita anda untuk tumbuh kembang sehat serta terhindar dari berbagai macam jenis kecatatan fisik maupun mental serta jauh dari penyakit.Artikel ini dimaksudkan agar semakin banyak yang paham bahwa makanan sehat bervitamin penting bahkan sejak bayi. 2.2.3 Bentuk vitamin K 1. Vitamin K1 (phytomenadione), terdapat pada sayuran hijau. Sediaan yang ada saat ini adalah cremophor dan vitamin K mixed micelles (KMM) 2. Vitamin K2 (menaquinone) disintesis oleh flora usus normal seperti Bacteriodes fragilis dan beberapa strain E. coli. 3. Vitamin K3 (menadione) yang sering dipakai sekarang merupakan vitamin K sintetik tetapi jarang diberikan lagi pada neonatus karena dilaporkan dapat menyebabkan anemia hemolitik Jenis vitamin K yang digunakan untuk penyuntikan ke bayi baru lahir adalah vitamin K1 (phytomenadione) injeksi dalam sediaan ampul yang berisi 10mg Vitamin K1 per 1 ml 2.2.4 Manfaat Vitamin K Manfaat vitamin K jelas sebagai pembekuan darah dan juga berperan dalam proses pembentukan tulang dengan kalsium. Jika pada orang dewasa, bagi mereka yang telah mengkonsumsi vitamin K, tentu saat terjadi pendarahan luka luar yang tidak begitu parah, pemulihannya pun akan segera cepat terjadi. Ini juga berdampak pada mereka yang jarang mengkonsumsi vitamin K adalah adanya kelainan tulang. Diketahui bahwa orang yang hanya mengkonsumsi makanan tinggi kalsium dan tinggi badan tidak berkembang ideal, maka diyakini kurang mengkonsumsi vitamin K. Sehingga mengkonsumsi vitamin K pun jadi penting bagi anak-anak yang ingin memiliki tumbuh kembang tinggi badan yang optimal. Kelebihan vitamin K pun tidak baik.Tapi kasus kelebihan vitamin K lebih jarang dibandingkan dengan kasus kekurangan vitamin K. Tapi tetap harus diperhatikan.tamin K merupakan vitamin larut dalam lemak yang memiliki peranan penting dalam mengaktifkan zat-zat yang berperan dalam pembekuan darah, di antaranya zat yang dikenal sebagai protrombin dan faktor-faktor pembekuan 2.2.5 Waktu pemberian vitamin K Vitamin K yang diberikan adalah vitamin K1, diberikan pada saat bayi baru lahir sampai usia 2 minggu karena risiko terjadinya perdarahan bertambah terutama pada usia 1-2 minggu dan menurun menjelang usia 6 bulan setelah bayi mulai dapat memproduksi vitamin K sendiri. Cara pemberian dapat dilakukan baik secara suntikan di otot (intra muskular) ataupun di minum (oral) Suntikan di otot, dengan dosis tunggal 1 mg pada setiap bayi baru lahir Diminum, dengan dosis tunggal 2 mg diberikan tiga kali, yaitu pada saat bayi baru lahir, pada umur 3-7 hari, dan pada umur 4-8 minggu. Pada bayi yang terlambat mendapat vitamin K dan mengalami perdarahan akibat kekurangan vitamin K, dokter akan memberikan pengobatan berupa suntikan vitamin K dan transfusi darah. Pemberian vitamin K tidak perlu dilakukan ulangan, karena semakin bertambah umur bayi, semakin baik kemampuan tubuhnya untuk menghasilkan vitamin K dan semakin bervariasi asupan makanan yang didapatkan. 2.2. Pemberian Salap Mata Definisi Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata.Pada pembuatan salep mata harus diberikan perhatian khusus.Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas (Anonim, 1995). Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok (Anief, 2000).Berbeda dengan salep dermatologi, salep mata harus steril.Salep mata harusmemenuhi uji sterilitas sebagaimana tertera pada kompendia resmi. Jadi, salep mata dapatdiartikan sebagai sediaan setengah padat yang mudah dioleskan ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit ataupun selaput lendir pada bagian mata atau sekitarnya,dimana bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang sesuai. 2.2.1 Tujuan Pemberian Salep Mata Tujuan utama pemberian salep mata yaitu untuk memperlama kontak obat dengan permukaan mata dan untuk mencegah kebutaan. 2.2.2 Indikasi dan Kontra indikasi pemberian obat pada mata 1. Indikasi Biasanya obat salep mata digunakan dengan indikasi sebagai berikut : 2.2.2.1.1.1. meredakan sementara mata merah akibat iritasi ringan yang dapat disebabkan oleh debu, sengatan sinar matahari, pemakaian lensa kontak, alergi atau sehabis berenang. 2.2.2.1.1.2. Antiseptik dan antiinfeksi. 2.2.2.1.1.3. radang atau alergi mata. 2. Kontraindikasi Obat salep mata yang mengandung nafazolin hidroksida tidak boleh digunakan pada penderita konjutivitis atau penyakit mata lainnya yang hebat, bayi dan anak.Kecuali dalam pegawasan dan nasehat dokter. 2.2.3 Keuntungan dan kerugian Keuntungan utama suatu salep mata terhadap larutan untuk mata adalah penambah waktu hubungan anatara obat dengan obat dengan mata, dua sampai empatkali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam.Satu kekurangan bagi pengggunaan salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa kontak.(Ansel, 1989).Sediaan mata umumnya dapat memberikan bioavailabilitas lebih besar daripada sediaan larutan dalam air yang ekuivalen.Hal ini disebabkan karena waktu kontak yang lebih lama sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih tinggi. Salep matadapat mengganggu penglihatan, kecuali jika digunakan saat akan tidur (Remington Pharmaceutical Science,1990). 2.2.4. Syarat-syarat salep mata 1. Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang benar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi. 2. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma. 3. Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau merkuri organik. 4. Salep akhir harus bebas dari partikel besar. 5. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai. Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar larut dalam air dapat digunakan untuk obat yang larut dalam air. Bahan dasar salep seperti ini memungkinkan dispersi obat larut air yang lebih baik tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada mata. 6. merupakan syarat yang paling penting, tidak layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien. Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme, satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang, namun juga ditemukan disaluran intestinal, dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara. 2.2.5 Basis salep mata Dasar salep pilihan untuk salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus memungkinkan difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata.Dasar salep mata yang digunakan juga harus bertitik lebur yang mendakati suhu tubuh.Dalam beberapa hal campuran dari petroletum dan cairan petrolatum (minyak mineral) dimanfaatkan sebagai dasar salep mata.Kadang-kadang zat yang bercampur dengan air seprti lanolin ditambahkan kedalamnya. Hal in memungkinkan air dan obat yang tidak larut dalam air bartahan selama sistem penyampaian (Ansel,1989). Oculenta, sebagai bahan dasar salep mata sering mengandung vaselin, dasar absorpsi atau dasar salep larut air.Semua bahan yang dipakai untuk salep mata harus halus, tidak enak dalam mata.Salep mata terutama untuk mata yang luka.Harus steril dan diperlukan syarat-syarat yang lebih teliti maka harus dibuat saksama. Syarat oculenta adalah: 1. Tidak boleh mengandung bagian-bagian kasar. 2. Dasar salep tidak boleh merangsang mata dan harus memberi kemungkinan obat tersebar dengan perantaraan air mata. 3. Obat harus tetap berkhasiat selama penyimpanan. 4. Salep mata harus steril dan disimpan dalam tube yang steril (Anief, 2000). 2.2.6 Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyediakan Sediaan Salep Mata Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyediakan Sediaan Salep Mata 1. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas. Bila bahan tertentu yang digunakan dalam formulasi tidak dapat disterilkan dengan cara biasa, maka dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat uji sterilitas dengan pembuatan secara aseptik. Salep mata harus memenuhi persyaratan uji sterilitas. Sterilitas akhir salep mata dalam tube biasanya dilakukan dengan radiasi sinar γ. (Remingthon pharmauceutical,1990).Kemungkinan kontaminasi mikroba dapat dikurangi dengan melakukan pembuatan uji dibawah LAF. 2. Salep mata harus mengandung bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin masuk secar tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu penggunaan. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi atau formulanya sendiri sudah bersifat bakteriostatik (lihat bahan tambahan seperti yang terdapat pada uji salep mata. Zat anti mikroba yang dapat digunakan a. klorbutanol b. paraben c. senyawa Hg organik OTT dengan halide Wadah salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu pengisian dan penutupan.Wadah salep mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. 2.2.7 Standart Operasional Prosedur Pemberian Salep Mata a. Persiapan Alat dan Bahan : 1. Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep. 2. Pipet. 3. Pinset anatomi dalam tempatnya. 4. Korentang dalam tempatnya. 5. Plester. 6. Kain kasa. 7. Kertas tisu. 8. Balutan. 9. Sarung tangan. 10. Air hangat/kapas pelembab. 11. Handschoen 12. Lembar Observasi 13. Alat Tulis 14. Bengkok 15. Buku Catatn Pemberian Obat 16. Penlight b. Persiapan Pasien : 1. Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan Menjelaskan Prosedur tindakan 2. Meminta Persetujuan Pasien 3. Menyiapkan pasien dalam posisi yang tepat 4. Persiapan Lingkungan : 5. Menutup korden/ jendela 6. Memasang sampiran / sketsel 7. Mempersiapkan penerangan 8. Menganjurkan orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan c. Penatalaksanaan : 1. Membaca buku daftar pemberian obat salep mata, yang menyatakan nama obat dan nama pemberian 2. Mencuci tangan 3. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. 4. Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan. 5. Gunakan sarung tangan. 6. Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung, apabila sangat kotor basuh dengan air hangat. 7. Buka mata dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita. 8. Pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube sehingga obat keluar dan berikan obat pada kelopak mata bawah. (kira - kira ¼ inci kecuali ada petunjuk lainnya) pada sakus konjungtiva. 9. Tutup mata dengan kasa bila perlu. 10. Beritahu klien bahwa penglihatannya akan kabur sebentar. 11. Berikan pada waktu tidur,jika memungkinkan 12. Cuci tangan. 13. Catat obat, jumlah, waktu, dan tempat pemberian. 14. Dokumentasikan d. Evaluasi 1. Pemberian salep mata 2. Sterilisasi terjaga 3. Klien merasa nyaman BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Manfaat vitamin K jelas sebagai pembekuan darah dan juga berperan dalam proses pembentukan tulang dengan kalsium. Jika pada orang dewasa, bagi mereka yang telah mengkonsumsi vitamin K, tentu saat terjadi pendarahan luka luar yang tidak begitu parah, pemulihannya pun akan segera cepat terjadi. Ini juga berdampak pada mereka yang jarang mengkonsumsi vitamin K adalah adanya kelainan tulang. Diketahui bahwa orang yang hanya mengkonsumsi makanan tinggi kalsium dan tinggi badan tidak berkembang ideal, maka diyakini kurang mengkonsumsi vitamin K. Sehingga mengkonsumsi vitamin K pun jadi penting bagi anak-anak yang ingin memiliki tumbuh kembang tinggi badan yang optimal. Kelebihan vitamin K pun tidak baik. Tapi kasus kelebihan vitamin K lebih jarang dibandingkan dengan kasus kekurangan vitamin K. Tapi tetap harus diperhatikanDengan demikian, pentingnya pemberian vitamin K pada bayi sudah anda ketahui. Untuk itu jagalah ibu hamil serta masa persalinan dan bayi serta balita anda untuk tumbuh kembang sehat serta terhindar dari berbagai macam jenis kecatatan fisik maupun mental serta jauh dari penyakit. Artikel ini dimaksudkan agar semakin banyak yang paham bahwa makanan sehat bervitamin penting bahkan sejak bayi. Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata.Pada pembuatan salep mata harus diberikan perhatian khusus.Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas. Tujuan utama pemberian salep mata yaitu untuk memperlama kontak obat dengan permukaan mata.Indikasi biasanya obat salep mata digunakan untuk meredakan sementara mata merah akibat iritasi ringan yang dapat disebabkan oleh debu, sengatan sinar matahari, pemakaian lensa kontak, alergi atau sehabis berenang, antiseptik dan anti infeksi, radang atau alergi mata. Kontraindikasi obat salep mata yang mengandung nafazolin hidroksida tidak boleh digunakan pada penderita konjutivitis atau penyakit mata lainnya yang hebat, bayi dan anak.Kecuali dalam pegawasan dan nasehat dokter. Keuntungan utama suatu salep mata terhadap larutan untuk mata adalah penambah waktu hubungan anatara obat dengan obat dengan mata, dua sampai empatkali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam.Satu kekurangan bagi pengggunaan salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa kontak.Syarat-syarat salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang benar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi. Basis salep mata dasar salep pilihan untuk salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus memungkinkan difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyediakan sediaan salep mata Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas.Salep mata harus mengandung bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin masuk secar tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu penggunaan. 3.2. Saran Demikianlah makalah yang penulis paparkan, sebagaipenulis makalanh penulis,menyadari masih banya kekurangan dan kesalahan dalam pebuatan makalah. Kepada dosen yang memberikan tugas pembuatan makalah ini penulis mangharapkan agar apa yang belum kami mengerti mohon di jelaskan lagi atau pun ada kesalah dalam pembuatan makalah ini kami sebagai penulis sangat mengharapkan kiritik dan saran sebagai peroses pembelajaran buat gunak perbaikan dalam pembuatan makalah berikut nya.Disadari oleh penulis bahwa makalah yang telah disusun oleh penilis yang berjudul”pemberian Vitamin K dan Salep Mata ” masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran terhadap makalah yang bersifat membangun agar makalah yang dibuat dapat menjadi lebih baik dan bermanfaat. DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Dirjen POM. 2. Arief, M.2000. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta : Gadjah Mada University press 3. Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press). 4. G.Bare, Brenda.C Smeltzer, Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth Edisi 8. Jakarta : EGC. 5. Bobak, Lowdermilk & Jensen (2005). Buku ajar keperawatan maternitas. Edisi 4. Jakarta : EGC. 6. http://fandik-prasetiyawan.blogspot.com/2012/12/makalah-salep-mata-sop.html 7. http://www.news-medical.net/health/Newborn-Vitamin-K-Injections-%28Indonesian%29.aspxpemberian salap mata dan vitami K pada bayi baru lahir

Aplikasi Ilmu Ekonomi di Kesehatan


1. Ilmu Ekonomi
Adam Smith mendefinisikan ilmu ekonomi yaitu Ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia dalam usahanya untuk
mengalokasikan sumber-sumber daya yang terbatas guna
mencapai tujuan tertentu. Ekonomi memiliki dua padanan kata
berasal dari Yunani yaitu OIKOS dan NOMOS. Oikos merupakan
rumah tangga dan Nomos yaitu aturan. Jadi dapat disimpulkan
4 / 15
secara sederhana ekonomi merupakan aturan-aturan dalam rumah
tangga. Salah satu Ekonom barat yaitu Samuelson mendefinisikan
ilmu ekonomi sebagai Ilmu mengenai bagaimana individu atau
masyarakat, dengan atau tanpa uang, menggunakan sumber daya
yang terbatas, dengan berbagai pilihan penggunaannya untuk
menghasilkan berbagai macam barang/ jasa dan
mendistribusikannya untuk keperluan konsumsi saat ini atau masa
yang akan datang, bagi individu atau kelompok di masyarakat.
Selain itu, sebagai ilmu yang membahas bagaimana sumber daya
dialokasikan diantara berbagai alternatif penggunaan untuk
memuaskan keinginan manusia, (Katz & Rosen). Manulang
mendefiniskan sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat dalam
usahanya untuk mencapai kemakmuran (dapat memenuhi
kebutuhannya, baik barang-barang maupun jasa.
Sumber daya yang terbatas dengan kebutuhan yang tidak terbatas
dapat mengakibatkan masalah kelangkaan atau scarcity.
Kelangkaan atau scarcity merupakan persoalan dalam ilmu
ekonomi, sehingga individu atau rumah tangga perlu memikirkan
cara terbaik untuk membuat keputusan yang terbaik pula. Dalam
ilmu ekonomi sering menjadi persoalan seperti:
— Bagaimana mengkombinasikan sumberdaya yang dimiliki agar
dapat menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan,
— Apa dan berapa banyak barang/ jasa perlu dihasilkan,
— Bagaimana mendistribusikan barang/ jasa kepada masyarakat
yang membutuhkan.
Kebutuhan yang tidak terbatas dapat digambarkan sebagai
keinginan masyarakat yang memang dibutuhkan dan untuk
memperoleh serta mengkonsumsi barang dan jasa. Manusia
sebagai pelaku ekonomi:
• Tidak pernah merasa puas atasapa yang telah diperoleh,
• Berusaha terus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
• Selalu mempertimbangkan pengorbanan dan manfaat dari tindakan
yang dilakukan.
Sumber daya yang tersedia dari alam atau yang dapat diciptakan
oleh manusia untuk memproduksi barang dan jasa. Barang dan
jasa atau dalam ekonomi sering disebut sebagai Komoditas atau
comodities. Sumber daya terdiri dari sumber daya alam, sumber
daya manusia, modal dan sebagainya. Sumber daya yaitu Yaitu
segala sesuatu yang berasal dari alam yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Meliputi air, tanah, tumbuhan,
hewan, hasil hutan, barang tambang, dan sebagainya. Sumber
daya manusia merupakan Merupakan faktor produksi yang sangat
penting dalam menjalankan kegiatan produksi yang meliputi
keahlian dan keterampilan misalnya Tenaga kerja kasar, Tenaga
kerja terampil, Tenaga kerja terdidik.
Bidang dari ilmu ekonomi terdiri dari positive economics dan
normative economics. Positive economics menggambarkan apa
5 / 15
yang terjadi atau yang telah terjadi, sedangkan normative
economics yaitu apa yang seharusnya terjadi. Jadi dapat
disimpulkan normative economics akan selalu berkaitan dengan
norma-norma atau standar yang harus diterapkan.
Ilmu ekonomi mempelajari diantaranya pasar persaingan
sempurna, sejumlah besar penjual dan pembeli suatu barang
memastikan bawa tidak satu pun penjual atau pembeli dapat
memengaruhi harga. Kekuatas pasar penawaran dan permintaan
yang menetapkan harga. Perusahaan secara sendiri-sendiri
mengambil harga pasar sebagai acuan dalam memutuskan berapa
banyak harus memproduksi dan menjual barang atau jasa, dan
konsumen mengambil harga pasar untuk mempertimbangkan
berapa banyak barang/ jasa yang dibeli.
Banyak industri hanya memiliki sedikit produsen sehingga masingmasing-
masing produsen memiliki sesuatu kekuatan monopoli. Dan
banyak perusahaan, setiap pembeli bahan baku, tenaga kerja, atau
barang modal khusus, memiliki suatu kekuatan monopsonidi pasar
untuk input faktor ini. Persoalan yang dihadapi yaitu bagaimana
menggunakan kekuatan pasar dengan cara paling efektif. Mereka
harus memutuskan bagaimana menetapkan harga, memilih jumlah
input faktor dan menentukan output dalam jangka pendek maupun
jangka panjang untuk memaksimalkan profit atau keuntungan
perusahaan tersebut.
Pentingnya mempelajari ilmu ekonomi berarti memahami cara
berpikir karena salah satunya Keputusan ekonomi seringkali
berdampak besar dalam kehidupan. Ilmu ekonomi penting dalam:
• Ilmu masyarakat
• Pemahaman hubungan internasional
• Keputusan voting
Lingkup dalam ilmu ekonomi yaitu mikroekonomi dan
makroekonomi. Mikroekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang
mempelajari perilaku unit pengambil-keputusan, yaitu perusahaan
bisnis dan rumahtangga. Makroekonomi adalah cabang ilmu
ekonomi yang mempelajari agregat ekonomi (pendapatan, output,
pekerjaan, dsb) dalam skala nasional.
Lingkup dan metode dari ilmu ekonomi dibedakan berdasarkan
produksi, harga, pendapatan dan pekerjaan. Untuk lebih jelas dapat
dilihat dari tabel berikut:
6 / 15
2. Latihan
- Jelaskan pengertian ilmu ekonomi!
- Jelaskan perbadaan positive & normative economics!
3. Rangkuman
Keterbatasan sumber daya membuat pelaku ekonomi mencari cara
terbaik untuk memenuhi kebutuhan/ keinginan yang tidak terbatas.
Oleh karena itu, ilmu ekonomi memiliki peranan penting hampir di
semua aspek kehidupan.
4. Tes Formatif 1
Aturan dalam bahasa Yunani disebut:
a. oikos
b. efisiensi
c. ekonomi
d. efektif
e. nomos
7 / 15
Rumah tangga dalam bahasa Yunani disebut:
a. oikos
b. efisiensi
c. ekonomi
d. efektif
e. nomos
Apa dan berapa banyak barang/ jasa perlu dihasilkan merupakan:
a. Tujuan ekonomi
b. bentuk ekonomi
c. aspek ekonomi
d. persoalan ekonomi
e. jenis ekonomi
5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan jawaban di atas dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang ada
di bagian akhir modul ini. Ukurlah tingkat penguasaan materi kegiatan
belajar 1 dengan rumus sebagai berikut :
Tingkat penguasaan = jumlah jawaban yang benar
Arti tingkat penguasaan yang diperoleh adalah :
Baik sekali = 3 jawaban yang benar
Cukup baik = 2 jawaban yang benar
Kurang = 1 atau tidak ada jawaban yang benar
Bila tingkat penguasan baik sekali, sila melanjutkan ke Kegiatan Belajar 2.
Namun bila tingkat penguasaan masih kurang, harus mengulangi
Kegiatan Belajar 1 terutama pada bagian yang belum dikuasai.
E. Kegiatan Belajar 2
1. Istilah dalam Ilmu Ekonomi
• Kelangkaan (scarcity)
Keterbatasan menyebabkan banyak hal terasa langka (scarce)
seperti jumlah, kualitas, tempat dan waktu. Sesuatu tidak akan
langka kalau jumlah yang tersedia sesuai dengan kebutuhan,
berkualitas baik, tersedia di mana saja atau di setiap tempat, dan
kapan saja dibutuhkan.
• Pilihan (Choices)
8 / 15
Terbatasnya sumber daya tersedia dibandingkan kebutuhan/
keinginan, menyebabkan manusia harus menentukan pilihan yang
bersifat individu maupun kolektif. Pilihan individu misalnya celana
warna apa yang akan dipakai hari ini. Pilihan kolektif misalnya di
mana akan mengadakan buka bersama walaupun berakhir dengan
wacana dalam WA group.
• Barang dan Jasa
Barang adalah benda- benda yang berwujud, yang digunakan
masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk
menghasilkan benda yang lain yang akan memenuhi kebutuhan
masyarakat. Contoh: beras, minuman, pakaian, mobil, dan
sebagainya. Jasa bersifat tidak berwujud, tetapi dapat memberikan
kepuasan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Contoh:
perbankan, pelayanan kesehatan.
Barang ekonomi (economics goods) adalah barang yang
mempunyai kegunaan dan langka, yaitu julah yang tersedia lebih
sedikit dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan masyarakat
dan mempunyai harga. Barang bebas (free goods) barang yang
tersedia dalam jumlah melimpah (tidak langka) dan tidak
memerlukan pengorbanan untuk memperolehnya. Contoh: udara.
Barang bebas dapat menjadi barang ekonomi karena perbedaan
tempat dan waktu. Contoh: air, air bersih di perkotaan, sinar
matahari saat musim dingin, di mana penduduk rela membayar
untuk datang ke daerah tropis.
Barang akhir (final good) adalah barang yang dihasilkan oleh
belbagai kegiatan ekonomi dan dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Contoh: televisi dan makanan.
Barang modal (Capital good) adalah barang yang dihasilkan untuk
menghasilkan barang lain, contoh: bangunan pabrik, mesin traktor.
Barang antara (intermediate good) adalah barang yang belum
menjadi barang akhir dan masih akan diproses. Contoh: besi baja,
tekstil.
• Barang publik
Barang publik atau public goods adalah baranga yang non bersaing
dan non eksklusif di mana biata marjibak untuk menyediakannya
bagi seorang konsumen tambahan adalah nol dan orang-orang
tidak mungkin dilarang untuk mengonsumsinya.
• Efisiensi secara teknis
Apabila perusahaan-perusahaan menggabungkan masukanmasukan
untuk memproduksi suatu keluaran tertentu dengan
semurah mungkin.
9 / 15
• Eksternalitas
Tindakan oleh seorang konsumen atau produsen yang
memengaruhi produsen atau konsumen lainnya, tetapi tidak dapat
diperhitungkan dalam harga pasar.
• Barrier to entry
Hambatan untuk masuk atau barrier to entry yaitu kondisi yang
merintangi para pesaing baru masuk.
• Informasi asimetris
Situasi di mana seorang pembeli dan seorang penjual memiliki
informasi yang berbeda tentang suatu transaksi.
• Kekuatan pasar
Kemampuan penjual atau pembeli memengaruhi harga suatu
barang.
• Kekuatan monopsoni
Kemampuan pembeli untuk memengaruhi harga barang.
• Kekuatan Monopoli
Kemampuan penjual untuk memengaruhi harga barang.
• Undang-undang anti monopoli
Peraturan perundang-undangan yang melarang tindakan-tindakan
yang menghambat atau kemungkinan akan menghambat
persaingan.
• Upah efisiensi
Upah yang akan dibayarkan suatu perusahaan kepada seorang
karyawan sebagai insentif untuk tidak melalaikan tugasnya.
• Nilai Marjinal
Manfaat tambahan yang berasal dari pembelian satu lagi unit suatu
barang. Penghitungan biaya dan keuntungan dari keputusan hanya
terkait dengan keputusan itu sendiri Misalnya, keputusan
memproduksi output tambahan hanya memperhitungkan biaya
tambahan (additional atau marginal cost) tanpa memperhitungkan
sunk cost yang sudah dikeluarkan dan tidak terkait langsung
dengan keputusan tersebut.
• Efficient allocation
Pengalokasian efisien yaitu alokasi barang di mana tidak seorang
pun dapat lebih diuntungkan kecuali jika orang lainnya diakibatkan
lebih rugi.
10 / 15
• Biaya oportunitas
Biaya oportunitas adalah alternatif terbaik yang dikesampingkan
atau ditinggalkan ketika mengambil keputusan, di mana hampir
semua keputusan mengandung kompromi.
2. Latihan
- Sebutkan contoh barang!
3. Rangkuman
Kebutuhan yang tidak terbatas namun diiringi dengan sumber daya
yang terbatas, mengakibatkan kelangkaan sehingga pelaku ekonomi
harus dihadapkan dengan pilihan-pilihan.
4. Tes Formatif 2
Jumlah, kualitas, tempat dan waktu merupakan kriteria dari:
a. kelangkaan,
b. choices
c. alternatif
d. equity
e. equality
Televisi merupakan
a. choices
b. final good
c. equity
d. equality
e. effectiveness
Barang yang memiliki kegunaan dan langka disebut
a. barang berwujud
b. jasa
c. barang ekonomi
d. barang bebas
e. barang antara
5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan jawaban di atas dengan kunci jawaban tes formatif 2 yang ada
di bagian akhir modul ini. Ukurlah tingkat penguasaan materi kegiatan
belajar 2 dengan rumus sebagai berikut :
11 / 15
Tingkat penguasaan = jumlah jawaban yang benar
Arti tingkat penguasaan yang diperoleh adalah :
Baik sekali = 3 jawaban yang benar
Cukup baik = 2 jawaban yang benar
Kurang = 1 atau tidak ada jawaban yang benar
Bila tingkat penguasan baik sekali, sila melanjutkan ke Kegiatan Belajar 3.
Namun bila tingkat penguasaan masih kurang, harus mengulangi
Kegiatan Belajar 2 terutama pada bagian yang belum dikuasai.
F. Kegiatan Belajar 3
1. Definisi Ekonomi Kesehatan
Ilmu ekonomi sebagai ilmu mengenai keterbatasan atau
kelangkaan sumberdaya dan penentuan pilihannya. Ekonomi kesehatan
dapat didefinisikan sebagai penerapan ilmu ekonomi pada sektor atau
bidang kesehatan. Menurut Mills & Gilson, ekonomi kesehatan berkaitan
erat dengan hal-hal sebagai berikut:
• Alokasi sumber daya diantara berbagai upaya kesehatan
• Jumlah sumber daya yang dipergunakan dalam pelayanan
kesehatan
• Pengorganisasian dan pembiayaan dari pelbagai pelayanan
kesehatan
• Efisiensi pengalokasian dan penggunaan pelbagai sumber daya
• Dampak upaya pencegahan, pengobatan, dan pemulihan
kesehatan pada individu dan masyarakat.
Norma atau standar yang harus diterapkan atau normative economics
menjadi perdebatan sebagai contoh keinginan untuk adanya pasar bebas
bagi jasa pelayanan kesehatan. Delapan aspek penerapan ekonomi
kesehatan:
A. Faktor apa saja yang mempengaruhi kesehatan? Berapa besar
kontribusi perawatan kesehatan, tingkat pendapatan, pendidikan,
keadaan lingkungan dan sebagainya?
B. Berapa besar nilai (value) yang diberikan pada kesehatan dan
bagaimana cara untuk mengukurnya?
C. Apa saja yang mempengaruhi tuntutan atau permintaan (demand)
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan? Apa pengaruh dari
tarif (price), tingkat pendapatan, waktu perjalanan untuk mencapai
12 / 15
tempat pelayanan, perilaku petugas pemberi pelayanan (provider)
dan sebagainya?
D. Bagaimanan karakteristik dari penawaran (supply) pelayanan
kesehatan? Berapa besar biaya untuk menyediakan pelayanan
kesehatan, seperti modal, tenaga kerja, obat-obatan, dan
sebagainya? Bagaimana cara pembayaran terhadap pelayanan
yang telah diberikan, dan bagaimanan pengaruhanya terhadap
perilaku pemberi pelayanan kesehatan?
E. Berapa besar biaya dan akibat dari pilihan-pilihan cara lain
(alteranatif) untuk memperbaiki status kesehatan atau
melaksanakan suatu program kesehatan?
F. Apakah hasil interaksi antara supply dan demand terhadap
pelayanan kesehatan serta dampak sebagai contoh uang, waktu
pembayaran, rasionalisasi sistem, dan siapa yang mendapat dan
siapa yang tidak mendapat pelayanan?
G. Apakah akibat dari berbagai cara pembiayaan dan
pengorganisasian di sektor kesehatan dalam kaitannya dengan
kriteria efisiensi dan pemerataan?
H. Cara apa yang ada untuk mencapai secara maksimum berbagai
tujuan dari sektor kesehatan, misalnya sistem penganggaran,
perencanaan, dan sampai sejauh mana cara-cara tersebut cukup
efekti?
Seperti diketahui, ilmu ekonomi memegang peranan penting hampir di
semua aspek kehidupan manusia. Pertumbuhan ekonomi suatu negara
berkaitan dengan status atau derajat kesehatan penduduknya.
Ilmu ekonomi digunakan dalam bidang kesehatan dengan alasan:
• Status kesehatan mempengaruhi aktivitas ekonomi
• Menjaga dan meningkatkan status kesehatan membutuhkan
sumber daya
• Muncul karena adanya kebutuhan akan pelayanan kesehatan
• Perlu adanya pengelolaan sumber daya untuk mencapai tujuan
organisasi
Peranan ekonomi kesehatan:
• Rasionalisasi pemilihan dan pelaksanaan kegiatan yang terkait
dengan pelayanan kesehatan
• Sebagai masukan dari perencanaan kesehatan
• Sebagai masukan untuk mengambil keputusan
• Membantu pengalokasian sumber daya untuk lebih baik
• Meningkatkankan efisiensi
• Memilih teknologi kesehatan yang efektif
• Sebagai evaluasi atas alternatif dari pilihan-pililhan yang ada
• Mempengaruhi derajat atau status kesehatan penduduk
13 / 15
Isu ekonomi kesehatan:
• Kesehatan dan pembangunan ekonomi
• Pengorganisasian dan sistem penyediaan kesehatan
• Pembiayaan sektor kesehatan
• Analisis permintaan pelayanan kesehatan
• Analisis penawaran pelayanan kesehatan
• Evaluasi program- program kesehatan
• Pemerataan dan keadilan sosial
2. Latihan
- Jelaskan pengertian ekonomi kesehatan!
3. Rangkuman
Penerapan ilmu ekonomi dalam upaya kesehatan diperlukan kuntuk
mencapai derajat kesehatan yang optimal. Kebutuhan sektor kesehatan
terhadap ilmu ekonomi semakin mengalami perkembangan, dan adanya
peralihan pada sektor kesehatan dari lembaga yang mempunyai konsep
sosial menuju lembaga usaha yang profesional.
4. Tes Formatif 3
Ekonomi kesehatan berkaitan erat dengan
a. alokasi
b. efisiensi
c. pengorganisasian
d. dampak
e. Benar semua
Dalam ekonomi kesehatan terdapat …….. aspek.
a. 9
b. 8
c. 7
d. 6
e. 5
5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan jawaban di atas dengan kunci jawaban tes formatif 3 yang ada
di bagian akhir modul ini. Ukurlah tingkat penguasaan materi kegiatan
belajar 3 dengan rumus sebagai berikut :
Tingkat penguasaan = jumlah jawaban yang benar
Arti tingkat penguasaan yang diperoleh adalah :
14 / 15
Baik sekali = 2 jawaban yang benar
Cukup baik = 1 jawaban yang benar
Kurang = tidak ada jawaban yang benar
Bila tingkat penguasan baik sekali, sila melanjutkan ke modul berikutnya.
Namun bila tingkat penguasaan masih kurang, harus mengulangi
Kegiatan Belajar 3 terutama pada bagian yang belum dikuasai.
4. Kunci Jawaban
Tes formatif 1
E
A
D
Tes formatif 2
A
B
C
Tes formatif 3
E
B
5. Daftar Pustaka
— Wonderling, David; Reinhold Gruen & NickBlack (2005),
Introduction to Health Economics, England: London School of
Hygiene & Tropical Medicine (dapat di download).
— Stephen Morris, Nancy Devlin, David Parkin (2007): Economic
analysis in health care, England: John Wiley and sons Ltd
— Introduction to economics (macro and micro economics): selected
topics : John Sloman ( 2006) Essential of Economics, 4th ed,
Prentice Hall
— Bacaan tambahan:
— Feldstein: Health Care Economics
15 / 15
— Ann Mills. Health Economics for Developing Countries, a survival kit
— Alan Sorkin: Health Economics
— Drummond: Methods for the economic evaluation of health care
programmes
— Karen L. Rascati. Essential of pharmacoeconomics
— Bahan bacaan lain yang relevan, paper/ jurnal (diberikan maupun
ditelusuri di perpustakaan)
— Handbook of Health Economics, Anthony J.Culyer & Joseph
Newhouse (e-book)

asuhan kebidanan pada neonatus

ASUHAN KEBIDANAN   PADA IBU BERSALIN PADA NY”D” G 1 P 0 A 0 JANIN TUNGGAL   HIDUP   PRESENTASI KEPALA DENGAN TINDAKAN EPISIOTOMI DI ...